National

Ahli Forensi Reza Indragiri Buka Suara Mengenai Kasus Bunuh Diri Sekeluarga di Jakarta

Data resmi dari Polri tahun 2023 mencatat 970 kasus bunuh diri, meningkat dari 900 kasus pada tahun sebelumnya. Namun, seperti yang disampaikan dalam sebuah studi kerjasama antara Indonesia dan Australia, angka resmi tersebut mungkin hanya permukaan gunung es. Menurut studi tersebut, angka sebenarnya bisa jadi empat kali lipat dari data resmi yang diterima.

Salah satu kasus yang mencuri perhatian baru-baru ini adalah kasus bunuh diri sekeluarga, yang melibatkan anggota keluarga yang tidak mungkin secara mental maupun fisik untuk menyatakan keinginan atau kesepakatan untuk mengakhiri hidup mereka. Untuk membahas fenomena ini, Most Radio berkesempatan berbicara dengan pakar psikologi forensik, Mas Reza Indragiri Amril.

Dalam pembicaraan kami, Mas Reza menegaskan bahwa tidak semua peristiwa yang tampak sebagai bunuh diri benar-benar dapat dikategorikan demikian. Dia menyampaikan bahwa dalam kasus seperti peristiwa di Jakarta Utara, di mana empat orang terjun bebas dari atap apartemen, harus ada pertimbangan tentang kapasitas mental individu dan kesepakatan antar mereka. Dengan adanya anak-anak dalam peristiwa tersebut, Mas Reza menegaskan bahwa tidak mungkin bagi mereka untuk memiliki keinginan atau kesepakatan untuk melakukan tindakan tersebut.

Mas Reza juga membahas tentang perbedaan perspektif antara psikologi klinis dan forensik dalam menangani kasus semacam ini. Sementara psikologi klinis mungkin fokus pada pemahaman dan penyembuhan individu, psikologi forensik harus mempertimbangkan implikasi hukum dari setiap penilaian atau diagnosis yang dibuat.

Ketika ditanya tentang konstruksi hukum terkait kasus-kasus semacam ini, Mas Reza menyoroti bahwa dalam kasus pembunuhan sekeluarga di Jakarta Utara, pelaku tidak dapat dipidanakan karena sudah tiada. Namun, hal ini tidak meniadakan fakta bahwa peristiwa tersebut harus diperlakukan sebagai kasus pembunuhan terencana, terutama mengingat adanya bukti perencanaan yang kuat, seperti pengikatan tubuh dan pemilihan lokasi yang cermat.

Tidak ada pembenaran untuk bunuh diri atau pembunuhan, demikian pesan yang ingin disampaikan oleh Mas Reza. Kedua peristiwa ini harus dipandang sebagai tindakan yang salah dan tidak boleh ditiru. Pembicaraan kami diakhiri dengan pesan bahwa penyelesaian masalah tidak dapat dicapai dengan mengakhiri hidup, melainkan dengan mencari solusi yang sesuai dengan nilai dan prinsip kehidupan.

Dalam keharusan kami untuk mengunci persepsi kita, mari kita ingat bahwa setiap tindakan yang kita ambil memiliki konsekuensi, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain di sekitar kita. Dengan demikian, mari kita berjuang untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan mental dan kehidupan yang berarti bagi semua orang. (*/)

(RRY)

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...