Stasiun Karet harus ditata sedemikian rupa agar memberikan dapat menjaga keselamatan dan memberikan kenyamanan bagi pengguna KRL Jabodetabek
Pengguna KRL Jabodetabek mengalami penurunan di masa pandemi Covid-19 dan sekarang sudah mendekati seperti sebelum masa pandemi. Data dari PT KAI Commuter (2025), tahun 2019 sebanyak 336.274.343 penumpang, tahun 2020 (154.292.886 penumpang). Tahun 2021 (127.826.754 penumpang), tahun 2022 (217.964.892 penumoang), tahun 2023 (290.890.677 penumpang) dan tahun 2024 (328.153.923 penumpang).
Selama tahun 2024, penumpang tertinggi di Bulan Oktober sebanyak 29.933.224 penumpang dan terendah di Bulan Februari 24.616.724 penumpang.
Posisi Stasiun Karet mudah diakses oleh penumpang, namun tidak memiliki fasilitas parkir dan drop off kendaraan (kendaraan umum dan pribadi). Terdapat beberapa kawasan di sekitar stasiun yang menjadi titik bangkitan dan tarikan perjalanan dari dan menuju stasiun, seperti Pemakaman Karet Bivak, Apartemen Casa Domaine, Perkantoran di Area Benhil, Perkantoran di Area Sudirman, Perkantoran di Area Kuningan.
Ada keterbatasan operasional di Stasiun Karet. Jarak antara Stasiun Karet dan BNI City hanya 350 meter. Saat ini pelayanan penumpang di crossing passenger terkendala oleh kereta yang berhenti di Stasiun Karet.
Jarak antara Stasiun Karet dan Stasiun BNI City hanya 350 meter, sehingga pelayanan penumpang di Stasiun Karet dapat dioptimalkan semua dilayani di Stasiun BNI City. Keterbatasan lahan di Stasiun Karet menyebabkan sulitnya dilakukan pengembangan layanan untuk penumpang. Tidak tersedianya area parkir di Stasiun Karet berbanding terbalik dengan Stasiun BNI City yang dapat menampung mobil pribadi ataupun sepeda motor.
Berdasarkan perhitungan PT KAI Commuter (2025), dalam 1 jam di Stasiun Karet penumpang yang melakukan tap in di gate stasiun sebanyak 1.983 orang, dengan headway KA 10 menit maka dalam 10 menit ruang tunggu dan peron hanya dapat melayani lebih kurang 330 penumpang (luas peron sisi utara 407 meter persegi dan sisi Selatan 547 meter persegi). Sedangkan luasan Hall Stasiun Karet (184 meter persegi) hanya dapat menampung 150 penumpang. Tentunya keberadaan Stasiun Karet sekarang dinilai sudah tidak layak, sehingga perlu dilakukan penataan mengingat juga akan ada penambahan jumlah kereta dalam satu rangkaian. Semula 10 kereta dalam satu rangkaian menjadi 12 kereta dalam 1 rangkaian.
Jika masih menggunakan jalur keluar masuk seperti sekarang, maka akan menutup perlintasan sebidang dekat Stasiun Karet. Tentunya akan menimbulkan masalah sosial baru. Meskipun, keberadaan flyover sebenarnya sudah bisa menutup perlintasan sebidang di bawahnya. Namun akan menutup mata pencaharian pengemudi ojek dan sejumlah pedagang kaki lima yang ada.
Belum lagi ada perbedaan cukup lebar dan tinggi (lebih dari 20 cm) antara peron dan pintu keluar masuk KRL. Dapat membahayakan penumpang jika berhati-hati.
Disamping itu, Stasiun BNI City saat ini melayani penumpang dalam 1 tahun sebanyak 878.751 orang atau per hari 2.408 orang atau setiap 1 jam lebih kurang 100 penumpang. Sedangkan kapasitas maksimal Stasiun BNI City dalam 1 jam dapat menampung penumpang sebanyak 2.000 orang tiap 1 jam
Stasiun BNI City saat ini merupakan stasiun yang terintegrasi dengan moda transportasi lain (Transjakarta, MRT, LRT) sehingga lebih memudahkan mobilisasi masyarakat menggunakan transportasi yang terintegrasi.
Kajian dari DJKA (2025), Stasiun yang terdampak jika stasiun ditutup adalah Stasiun Sudirman dan Stasiun Tanah Abang. Penutupan Stasiun Karet dan Pengalihan ke Stasiun BNI City tidak akan berdampak pada peningkatan penumpang KA Bandara Soekarno Hatta.
Pada 3 Januari 2024, tim Subdit Penataan dan Pengembangan Jaringan Ditjen Perkeretaapian melakukan survei tata guna lahan di Stasiun Karet selama 3,5 jam (16.00-19.30 WIB). Hasil survei menemukan:
(a) Kemacetan terjadi akibat buka-tutup perlintasan pada jam sibuk dengan headway 3 menit. Pintu perlintasan tertutup selama 2 menit (1 kereta melintas) atau 4 menit (2 kereta).
(b) Setelah perlintasan terbuka, kendaraan dari Tanah Abang diatur melalui APILL menuju Pejompongan dan Manggarai.
(c) Integrasi transportasi meliputi Angkot Benhil-Roxy, Jaklingko Jak08 & Jak09, serta Transjakarta rute 8C, selain ojek, taksi daring, bajaj, dan pejalan kaki.
(d) Pejalan kaki dari sisi selatan turun di bawah flyover (Jl. KH. Mansyur) dan menggunakan bahu jalan untuk putar balik kendaraan.
(e) Angkot dari utara sering “ngetem” di depan pintu stasiun, menyebabkan kemacetan dan mengganggu operasional JPL 1.
Peak hour sore di Stasiun Karet terjadi pada pukul 17.00 – 18.00 WIB dengan total penumpang sebesar 2.075 orang. Komposisi pergerakan penumpang KA menuju Stasiun Karet adalah 66% pejalan kaki , 23% angkutan umum dan 11% dengan angkutan online (ojek atau mobil online).
Salah satu penyebab kemacetan di JPL 1 Stasiun Karet adalah lama tutup-buka pintu perlintasan pada jam sibuk, yakni headway 3 menit dengan selang waktu tutup-buka 2 menit untuk 1 kereta dan 4 menit untuk 2 kereta.
Penyebab kemacetan lainnya adalah tidak sinkronnya antara APILL dengan jadwal penutupan pintu perlintasan. Meskipun pintu perlintasan menutup, APILL arah selatan masih menyala merah, sehingga menyebabkan antrian kendaraan di jalur kereta api.
Fasilitas integrasi di sisi utara stasiun belum memadai, terlihat dari banyaknya penumpang yang memilih turun di bus stop sebelum perlintasan JPL 1 dan melintasi perlintasan meskipun pintu sudah menutup, yang berpotensi membahayakan
keselamatan pengguna dan operasional KRL Perlu ditambah pintu masuk stasiun dari sisi utara, namun memerlukan pembebasan lahan
Area drop-off dan lay bay di sisi selatan stasiun belum tersedia, menyebabkan banyak penumpang menggunakan sisi jalan raya untuk drop-off , terutama penumpang angkutan kota yang turun di bawah flyover dari arah selatan. Sedangkan
untuk penumpang dari arah Pejompongan (Barat) belum tersedia lay bay . Perlu ditambahkan fasilitas lay bay dan jalur pedestrian yang nyaman dan aman untuk penumpang dari arah Selatan.
Masalah lain adalah adanya kegiatan non-lalu lintas yang mengganggu arus kendaraan, seperti pasar atau penjual kaki lima serta ojek pangkalan yang menggunakan sisi bahu jalan. Perlu dilakukan penataan lokasi-lokasi kegiatan tersebut agar tidak menghalangi jalur lalu lintas dan trotoar.
Penyebab lain kemacetan adalah ketidaktertiban pengguna jalan, yang terlihat dari pergerakan lawan arah. Perlu untuk meningkatkan kepatuhan terhadap kendaraan di jalan raya dan memberikan rambu yang jelas.
Ketidakjelasan titik naik dan turun penumpang angkot, baik dari sisi utara maupun selatan, menyebabkan kebingungan di antara pengguna transportasi dan berpotensi mengganggu arus lalu lintas yang ada. Perlu penataan kembali titik-titik naik dan turun angkot dengan memasang rambu yang jelas serta membuat zona khusus untuk angkot agar penumpang lebih mudah mengenali lokasi yang tepat dan membantu memperlancar arus lalu lintas di area tersebut.
Jarak berjalan kaki penumpang di sisi utara stasiun adalah sekitar 40-70m sedangkan di sisi selatan stasiun adalah 50-85 meter. Penataan Stasiun Karet perlu memperhatikan jarak kemauan berjalan kaki penumpang KA.
Dengan posisi Stasiun Karet seperti sekarang, pelayanan penumpang untuk mendapatkan akses angkutan umum lanjutan mudah dan akses penumpang lebih dekat jika hendak menuju jalan raya (Jl. KH. Mas Mansyur).
Setelah penataan, kepadatan lalu lintas di Karet berkurang, keselamatan penumpang meningkat, integrasi MRT dan KA Bandara lebih mudah (dengan tambahan selasar), area parkir luas tersedia, dan lahan Stasiun Karet dioptimalkan untuk area komersial.
Oleh sebab itu, perlunya penataan Stasiun Karet untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang. Juga untuk menata lingkungan sepanjang Sungai Ciliwung yang bersisian dengan Stasiun Karet. Stasiun Karet dijadikan komersial pada area menghadap water front .
Rafa Natha – Redaksi