Wakil Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, mengusulkan agar kendaraan yang melewati jalan tol tidak lagi menggunakan kartu sebagai metode pembayaran. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi antrean panjang yang menyebabkan kemacetan serta meminimalisir risiko kecelakaan. Andre berharap seluruh gerbang tol dapat menerapkan sistem berbasis on board unit (OBU) atau radio frequency identification (RFID).
Teknologi yang saat ini sudah digunakan oleh operator tol seperti Jasa Marga dan Hutama Karya sebenarnya telah memungkinkan transaksi tanpa perlu melakukan proses tapping kartu. Andre menilai bahwa sistem ini mirip dengan yang diterapkan di beberapa negara lain seperti Jepang, di mana transaksi tol dapat dilakukan tanpa memerlukan satelit, melainkan cukup dengan teknologi yang sudah tersedia di gardu tol.
Andre juga mengatakan Asosiasi Tol Indonesia (ATI) juga mulai mengusulkan agar seluruh gerbang tol di Indonesia tidak lagi menggunakan sistem tapping kartu. Selain itu, Andre meminta Jasa Marga dan Hutama Karya untuk berdiskusi dengan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum untuk membahas usulan tersebut. Andre berharap dengan penerapan teknologi OBU atau RFID, dapat mengurangi kemacetan dan pengguna tol dapat merasakan pengalaman berkendara yang lebih efisien tanpa harus berhenti untuk melakukan tapping kartu di pintu tol.
Selain membahas perubahan sistem tol, Andre juga menyinggung peristiwa kecelakaan di Ciawi yang disebabkan oleh antrean panjang di sekitar gerbang tol. Andre menilai bahwa kecelakaan ini terjadi akibat adanya antrean kendaraan yang menyebabkan beberapa kendaraan mengalami rem blong. Oleh karena itu, ia mendorong operator jalan tol seperti Hutama Karya, Jasa Marga, serta ATI untuk segera mencari solusi guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Andhika Rakatama – Redaksi