Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya dalam memperkuat layanan kesehatan di Madura dengan membangun laboratorium campak di Sumenep, Jawa Timur. Langkah ini diambil sebagai upaya mempercepat penanganan kasus campak yang dalam beberapa bulan terakhir mencuat di berbagai wilayah, termasuk empat kabupaten di Madura.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menekankan, bahwa keberadaan laboratorium di Madura sangat penting agar proses pemeriksaan sampel tidak perlu lagi dikirim ke Surabaya. Pembangunan laboratorium ini menjadi strategi untuk mempercepat respon medis ketika ada indikasi kasus campak. Dengan begitu, langkah imunisasi massal di wilayah terdampak bisa segera dilakukan sehingga penyebaran penyakit dapat ditekan.
Menkes juga menargetkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kabupaten Sumenep bisa selesai dalam waktu dua minggu. Menkes didampingi Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo meninjau langsung penanganan KLB campak di Sumenep dengan melihat kegiatan imunisasi massal di TK-PAUD Qurrota A’yun, Desa Marengan Daya, Kecamatan Kota, Sumenep.
Menkes menargetkan dalam kurun waktu dua minggu, seluruh anak di Sumenep yang menjadi sasaran program Outbreak Response Immunization (ORI) bisa tunta1s diimunisasi. Untuk mendukung percepatan imunisasi, Kemenkes sudah mengirim 11.000 vial vaksin campak ke Madura. Dengan kapasitas satu vial untuk delapan anak, stok tersebut bisa mencakup sekitar 80 ribu anak, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan di Sumenep.