Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menegaskan bahwa pentingnya reformasi sistem pembiayaan internasional agar lebih inklusif dan berpihak pada negara berkembang saat menghadiri hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat kemarin.
Indonesia juga menekankan bahwa tanpa perubahan mendasar pada arsitektur keuangan global, negara-negara berkembang akan terus menghadapi tekanan fiskal yang menghambat ruang pembangunan jangka panjang. Dalam sesi pleno, Gibran mendorong pembiayaan yang lebih adil melalui penghapusan utang, blended finance, serta dukungan untuk transisi hijau.
Indonesia menegaskan bahwa akses pembiayaan yang setara dan dapat diprediksi menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan mempercepat pembangunan berkelanjutan. Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers usai rangkaian hari pertama KTT G20 2025.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa momentum Presidensi Afrika Selatan menjadi titik penting penegasan kembali suara Global South dalam forum ekonomi terbesar dunia itu. Ia menjelaskan bahwa Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menghadiri dua sesi utama yang membahas pembiayaan pembangunan, ekonomi berkelanjutan, perubahan iklim, hingga transisi energi.
Selain isu pembiayaan internasional, Indonesia menekankan pentingnya inovasi digital yang murah, inklusif, dan berdampak luas. QRIS dipaparkan sebagai contoh nyata solusi digital sederhana yang sukses diadopsi berbagai negara di Asia, termasuk Jepang dan Korea Selatan.
Indonesia menilai model seperti ini dapat menjadi rujukan global untuk mempercepat integrasi sistem pembayaran lintas Negara. Indonesia menegaskan bahwa reformasi keuangan global harus berjalan paralel dengan tata kelola teknologi yang lebih inklusif.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

