Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan opsi serangan yang menargetkan para pemimpin Iran dan pejabat keamanan senior Teheran.
Trump membuka peluang untuk melakukan serangan udara terhadap tokoh-tokoh Iran yang diyakini bertanggung jawab atas tewasnya ribuan orang dalam aksi demonstrasi di negara tersebut. Selain itu, Trump juga disebut kembali memasukkan situs nuklir Iran serta sejumlah lembaga pemerintah ke dalam daftar target potensial.
Meski belum mengambil keputusan final, Trump dikabarkan berniat melancarkan operasi militer yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Langkah itu seiring dengan kehadiran kelompok tempur kapal induk AS di kawasan Timur Tengah.
Sejak awal pekan ini, USS Abraham Lincoln bersama kapal-kapal perusak berpeluru kendali telah beroperasi di perairan Timur Tengah. Satu skuadron jet tempur F-15E Strike Eagle juga dilaporkan telah dikerahkan ke kawasan tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social pada Rabu (28/1), Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran. Ia mendesak Teheran untuk kembali ke meja perundingan dan menyepakati kesepakatan terkait program nuklir jika tidak ingin menghadapi serangan yang lebih besar dibandingkan tahun lalu.
Sikap keras Trump disebut dipicu oleh kekecewaan atas mandeknya proses negosiasi nuklir. Meski sempat ada komunikasi awal pada bulan lalu, rencana pertemuan lanjutan tidak pernah terealisasi, sementara tensi antara kedua negara terus meningkat.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan diplomasi tidak akan berhasil jika dibarengi tekanan militer. Ia menekankan bahwa negosiasi hanya dapat berjalan efektif tanpa ancaman, tuntutan berlebihan, dan pendekatan yang tidak rasional.
Ketegangan juga dipicu oleh penolakan Iran terhadap tuntutan AS untuk menghentikan pengayaan uranium, membatasi program rudal balistik, serta membuka akses inspeksi penuh bagi badan pengawas nuklir PBB. Meski demikian, Trump disebut masih membuka peluang dialog selama Iran bersedia memenuhi persyaratan yang ditetapkan Washington.
Sejumlah pejabat AS menilai Trump kini semakin memperlihatkan niat untuk melumpuhkan program nuklir dan rudal Iran, bahkan membuka kemungkinan perubahan rezim. Pekan lalu, Trump secara terbuka mengisyaratkan keinginannya melihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei lengser dari kekuasaan.
Namun, para pejabat AS juga mengakui bahwa operasi militer terhadap Iran akan jauh lebih kompleks. Iran memiliki sistem pertahanan udara, rudal balistik, drone tempur, serta armada jet tempur yang meski berusia tua, dinilai berpengalaman.
Pengalaman konflik Iran–Israel pada Juni 2025 lalu turut menjadi pertimbangan. Saat itu, Israel gagal melacak keberadaan Khamenei, yang disebut bersembunyi jauh di bawah tanah dan memutus komunikasi dengan para komandan militernya.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa setiap upaya militer terhadap Iran membutuhkan perhitungan matang, mengingat kekuatan rezim Teheran dan kompleksitas situasi di kawasan.
Akbari Danico – Redaksi

