Pasar keuangan Indonesia membuka 2026 dengan sentimen yang sangat positif, hal tersebut ditandai dengan lonjakan Indeks Harga Saham (IHSG) Gabungan sebesar 1,17% ke level 8.748,13 pada hari perdagangan pertama tahun ini. Penguatan tersebut memperkuat keyakinan bahwa Indonesia memasuki tahun baru dengan fondasi fundamental yang solid, di tengah membaiknya sentimen global dan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko.
Andry juga menyoroti kondisi makro domestik yang tetap terjaga. PMI manufaktur Indonesia melandai ke 51,2 pada Desember, tetapi masih berada di zona ekspansi, dengan permintaan domestik tetap menjadi penopang utama. Menurutnya, dengan kombinasi penguatan pasar saham, masuknya dana asing, serta penurunan imbal hasil (yield) obligasi, Indonesia dinilai memulai 2026 dari posisi yang kuat.
Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menegaskan bahwa penguatan IHSG di awal tahun merupakan sinyal kuat dari pasar. Shan menambahkan bahwa prospek pasar saham Indonesia ke depan dinilai semakin menarik. Bagi investor global yang selektif, Indonesia semakin menjadi pilar utama pasar berkembang dengan kualitas tinggi. Optimisme tersebut sejalan dengan pandangan Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, yang melihat penguatan IHSG sebagai bagian dari reli regional Asia.
Dari sisi aliran dana, investor asing mencatatkan arus masuk bersih sekitar Rp1,1 triliun ke pasar saham, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 6,05 persen. Dukungan kebijakan yang kredibel, permintaan domestik yang solid, dan valuasi pasar yang masih atraktif membuat Indonesia semakin dipandang sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara, bukan sekadar reli jangka pendek, melainkan fase penguatan yang lebih berkelanjutan.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

