Badan Intelijen Amerika Serikat (Central Intelligence Agency/CIA) dilaporkan tengah menjajaki langkah untuk membangun kehadiran permanen Amerika Serikat di Venezuela, menyusul jatuhnya rezim Presiden Nicolas Maduro. Upaya tersebut disebut menjadi bagian dari rencana pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memperluas pengaruh Washington terhadap arah masa depan Venezuela.
CIA dikabarkan akan memimpin strategi tersebut dengan membuka jalur komunikasi awal bersama berbagai faksi di dalam pemerintahan Venezuela, tokoh oposisi, serta pihak-pihak ketiga yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas politik negara tersebut. Pendekatan awal ini disebut dilakukan melalui kontak informal sebelum mekanisme diplomatik resmi dijalankan.
Seorang mantan pejabat pemerintah Amerika Serikat yang terlibat dalam isu Venezuela mengungkapkan bahwa pembentukan kantor cabang menjadi prioritas utama. Menurutnya, kehadiran intelijen di lapangan dinilai penting untuk membangun saluran komunikasi yang efektif dengan otoritas setempat.
“Pendirian kantor cabang adalah prioritas nomor satu. Sebelum jalur diplomatik dibuka, kehadiran intelijen dapat membantu membangun penghubung awal dengan pihak Venezuela,” ujarnya.
Meski demikian, hingga laporan ini beredar, CIA menolak memberikan komentar resmi terkait rencana tersebut.
Dalam praktiknya, Amerika Serikat kerap mengirimkan Direktur CIA atau pejabat intelijen senior untuk melakukan pertemuan tertutup dengan para pemimpin dunia, terutama dalam isu-isu sensitif yang berkaitan dengan keamanan dan kepentingan strategis nasional.
Direktur CIA, John Ratcliffe, dilaporkan menjadi pejabat senior pertama di era pemerintahan Trump yang mengunjungi Venezuela setelah penangkapan Nicolas Maduro. Ratcliffe disebut bertemu dengan Presiden sementara Delcy Rodriguez serta sejumlah pimpinan militer Venezuela dalam kunjungan yang berlangsung awal bulan ini, sebagai bagian dari upaya awal membangun komunikasi dan pengaruh AS di negara tersebut.
Akbari Danico – Redaksi

