Deretan rumah-rumah berdinding papan warna krem, dengan atap seng dan rangka baja ringan berjajar di Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Pot-pot tanaman menghiasi teras sekaligus jalan setapak di antara deretan rumah.
Bangunan itu merupakan hunian sementara (huntara) yang disiapkan pemerintah bagi warga terdampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.
Nagari Salareh Aia merupakan wilayah yang paling terdampak bencana banjir di Sumatra Barat. Rumah-rumah hancur, para penduduknya kehilangan tempat tinggal.
Pascabencana, masyarakat perlahan bangkit. Pemerintah membangun huntara berukuran 3×6 meter untuk tempat berteduh setiap keluarga.
Setiap unit huntara dilengkapi dengan berbagai perabotan seperti kasur, bantal, kipas angin, kompor gas, alat-alat kebersihan, hingga mainan anak. Ada pula bantuan makanan dan minuman. Listrik juga sudah mengalir ke semua huntara.
Aktivitas warga mulai terlihat sejak 117 unit huntara sudah selesai dan dihuni. Sejumlah warga berkumpul untuk mengobrol bersama di teras huntara. Ada juga yang sibuk membawa alat-alat masak serta membereskan perabotan rumah.
Anak-anak perempuan terlihat bermain miniatur rumah-rumahan bersama ibunya. Ada juga yang bermain badminton. Sementara anak laki-laki bermain mobil-mobilan.
Salah satu seorang warga yang menempati huntara, Ramalis, mengatakan bahwa rumah aslinya hancur diterjang banjir bandang dua bulan lalu. Ia merasa bersyukur kini sudah mendapatkan huntara.
“Alhamdulillah sudah ada huntara. Tapi harapan saya ke depannya tentu ingin segera mendapatkan hunian tetap (huntap),” ujar Ramalis.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, mengapresiasi langkah cepat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang didukung TNI serta Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan Pemerintah Kabupaten Agam dalam menyelesaikan pembangunan huntara.
Tito menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skema bantuan untuk memulihkan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana di Sumatra. Mulai dari huntara, hunian tetap (huntap), uang perabotan, bantuan lauk pauk, dan sebagainya.
Pendataan dan validasi korban bencana telah dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di tiga provinsi terdampak bencana, yakni Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh. Setelah proses validasi rampung, Tito mendorong bantuan segera dicairkan agar mempercepat pemulihan.
“Kalau sudah validasi, segera dibayarkan (bantuan untuk warga terdampak bencana). Kuncinya adalah data,” ucap Tito.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

