Kelompok Tani Masjid At-Taufiq di RW 17 Palmerah membuktikan bahwa keterbatasan lahan tidak menghalangi produksi pangan sehat dengan memanen 15 kilogram pakcoy dari kebun atap masjid mereka.
Lurah Palmerah, Zaenal Ngaripin, menyebut keberhasilan ini sebagai contoh pemanfaatan ruang kota secara produktif dan ramah lingkungan. Ia menekankan bahwa kelompok tersebut juga mengembangkan tanaman hidroponik serta ikan melalui sistem akuaponik yang mengintegrasikan pertanian dan perikanan dalam satu siklus berkelanjutan.
Zaenal mengatakan pihak kelurahan dan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Barat siap mendukung ketersediaan bibit maupun benih agar kegiatan ini terus berlanjut.
Ketua Poktan, Ahmad Djazuli, menjelaskan bahwa panen tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh anggota dan dukungan berbagai pihak. Sebagian pakcoy akan dijual kepada warga, sementara sisanya dibagikan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita dan warga yang membutuhkan. Ia menilai hasil ini menegaskan bahwa kebersamaan adalah pupuk terbaik bagi urban farming.
Praktik di Masjid At-Taufiq menunjukkan bahwa ketahanan pangan perkotaan tidak selalu menuntut lahan luas atau teknologi mahal. Dengan hidroponik dan akuaponik, satu ruang kecil dapat menjadi sumber sayur, ikan, dan pembelajaran kolektif. Inisiatif ini sekaligus menantang pandangan bahwa kota hanya menjadi konsumen pangan, bukan produsen. Palmerah memberi contoh bahwa ketahanan pangan dapat tumbuh dari atap rumah ibadah.
Ke depan, gerakan seperti ini berpotensi menjadi model pemberdayaan warga di wilayah padat lainnya. Panen 15 kilogram mungkin terdengar kecil, tetapi maknanya besar sebagai simbol kemandirian dan solidaritas. Urban farming di sini bukan sekadar bercocok tanam, melainkan upaya membangun komunitas yang lebih sehat dan tangguh. Jika direplikasi, atap-atap Jakarta bisa berubah menjadi jejaring kebun yang menumbuhkan harapan.
Alexander Jason – Redaksi

