Sejumlah milisi pro-Iran di Timur Tengah menyatakan kesiapan untuk berperang membela Teheran menyusul ancaman serangan dari Amerika Serikat. Kelompok-kelompok tersebut antara lain Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta Kataib Hezbollah (KH) di Irak.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan bersikap netral jika Iran diserang. Pernyataan tersebut disampaikan Qassem melalui sambungan video dalam sebuah acara solidaritas pada Senin (26/1). Ia menyatakan dukungan penuh Hizbullah terhadap Iran dan para pemimpinnya.
Menurut stasiun televisi Al-Manar yang berafiliasi dengan Hizbullah, kelompok yang menguasai Lebanon selatan itu memandang setiap ancaman terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai ancaman langsung terhadap Hizbullah.
Dikutip Al Jazeera, Qassem juga menuding Amerika Serikat telah lama merencanakan langkah-langkah untuk melemahkan Iran sejak negara tersebut berdiri pasca-Revolusi Islam 1979. Ia menyebut Washington telah memulai konfrontasi tidak langsung melalui perang Irak-Iran pada dekade 1980-an.
Sikap serupa disampaikan kelompok Houthi di Yaman. Milisi tersebut mengisyaratkan siap melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah, khususnya armada Amerika Serikat, apabila Washington benar-benar melancarkan serangan ke Iran.
Dilansir Associated Press (AP), pernyataan Houthi itu muncul tak lama setelah Kataib Hezbollah di Irak mengeluarkan ancaman langsung pada Minggu (25/1) malam. Kelompok tersebut memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan memicu “perang total” di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan milisi-milisi pro-Iran ini muncul bersamaan dengan tibanya armada kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln di Timur Tengah. Armada tersebut dilaporkan bergerak di tengah spekulasi bahwa Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi serangan terhadap Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan kehadiran USS Abraham Lincoln beserta kapal perusak berpeluru kendali bertujuan untuk “mendorong keamanan dan stabilitas regional.” Trump sendiri menyebut pengerahan armada itu dilakukan “untuk berjaga-jaga” apabila ia memutuskan mengambil tindakan terhadap Iran.
Trump juga menetapkan dua garis merah sebagai dasar kemungkinan serangan, yakni pembunuhan demonstran damai serta eksekusi massal terhadap mereka yang ditangkap dalam penindakan besar-besaran atas aksi protes.
Di sisi lain, seorang pejabat militer senior Iran yang berbicara secara anonim di televisi pemerintah menepis ancaman Amerika Serikat sebagai sesuatu yang “dibesar-besarkan.” Ia menyatakan Iran telah meningkatkan kehadiran militernya sebagai langkah antisipasi.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan tengah memantau secara ketat pergerakan Israel dan Amerika Serikat di kawasan. Seorang pejabat IRGC menilai keyakinan AS bahwa operasi militer terhadap Iran dapat berlangsung cepat dan bersih didasarkan pada pemahaman yang tidak utuh terhadap kemampuan Teheran.
Komandan IRGC bahkan menegaskan bahwa pasukannya kini “lebih siap dari sebelumnya,” seraya memperingatkan Amerika Serikat dan Israel untuk menghindari segala bentuk salah perhitungan yang dapat memicu eskalasi lebih luas.
Akbari Danico – Redaksi

