Pembangunan hunian sementara pascabencana di Sumatra Barat menunjukkan percepatan yang signifikan. Delapan titik pembangunan huntara telah memasuki tahap penyelesaian akhir per Selasa, 20 Januari. Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol melaporkan bahwa sebagian bangunan bahkan sudah berdiri dan mulai diperkuat. Perkembangan ini menandai fase penting dalam pemulihan kehidupan warga terdampak.
Di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, deretan huntara tampak hampir rampung. Personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih melakukan penguatan struktur dengan pemasangan rangka dan jendela. Progres serupa terlihat di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten 50 Kota, dengan pengerasan fondasi dan pemasangan baja ringan. Aktivitas konstruksi berjalan intensif sebagai bagian dari percepatan penyediaan tempat tinggal layak.
Di Kabupaten Padang Pariaman, tepatnya Korong Asam Pulau, Nagari Anduring, mesin molen terus beroperasi mendukung pengecoran fondasi huntara. Personel TNI bahu-membahu mengangkut material menggunakan gerobak sorong. Sementara itu, di Nagari Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, personel Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) turut terlibat aktif dalam pembangunan. Sinergi aparat menjadi pemandangan umum di berbagai lokasi pembangunan huntara.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah dan kementerian terkait terus mengakselerasi pembangunan. Targetnya, huntara dapat dihuni sebelum bulan Ramadhan 1447 Hijriah atau Februari mendatang. Dari total 50.974 rumah rusak berat, sebanyak 27.946 unit telah diajukan untuk pembangunan huntara. Hingga kini, 1.286 unit telah selesai dibangun, sementara ribuan lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Alexander Jason – Redaksi

