Pemerintah mempercepat pembangunan hunian sementara bagi warga Aceh Tamiang yang kehilangan rumah akibat banjir bandang November lalu. Program ini ditujukan untuk memungkinkan para penyintas segera meninggalkan posko pengungsian. Hunian sementara ini dirancang agar tetap layak, aman, dan nyaman meskipun bersifat tidak permanen. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan awal pascabencana.
Warga Kecamatan Karang Baru, Balqis Andresia Putri, menyampaikan rasa lega atas pembangunan tersebut. Ia menilai hunian yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum lebih layak dibandingkan tenda darurat. Harapan warga adalah agar pembangunan segera selesai sehingga kehidupan dapat kembali berjalan lebih normal. Kehadiran hunian ini juga memberi kepastian psikologis bagi para penyintas.
Kementerian Pekerjaan Umum saat ini membangun 384 unit hunian untuk 96 kepala keluarga di Aceh Tamiang. Setiap blok hunian dirancang berukuran 24 kali 14,4 meter dengan standar konstruksi yang baik. Struktur menggunakan baja ringan galvanis yang antikarat dan kuat. Dindingnya memakai panel modular yang tahan terhadap cuaca ekstrem.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan, mengapresiasi kualitas material yang digunakan dalam pembangunan hunian tersebut. Ia menilai bahan yang dipakai tergolong premium dan sangat layak untuk masyarakat. Penilaian ini memperkuat keyakinan bahwa hunian sementara tersebut memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan. Program ini diharapkan menjadi fondasi awal bagi pemulihan jangka panjang masyarakat terdampak.
Alexander Jason – Redaksi

