Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyepakati kerja sama di bidang maritime. Kerja sama itu berupa proyek pembangunan seribu lebih kapal tangkap ikan bagi nelayan Indonesia. Hal itu dikatakan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di London, Inggris, Rabu (21/1) waktu setempat.
Teddy menjelaskan, proyek pembangunan kapal nelayan itu diproyeksikan menyerap hingga 600.000 tenaga kerja di dalam negeri. Dari jumlah tersebut, sekitar 30.000 orang akan bekerja sebagai awak kapal, 400.000 orang terlibat dalam proses produksi, serta 170.000 orang lainnya terdampak melalui efek pengganda dari aktivitas ekonomi yang dihasilkan.
“Karena nanti (kapal) diproduksinya, dirakitnya di Indonesia. Jadi 30 ribu sendiri itu untuk awak kapalnya, kemudian 400 ribu untuk yang memproduksinya, kemudian nanti ada 170 ribu itu dari multiplier effect-nya,” kata Teddy.
Selain kerja sama pembangunan kapal, Inggris juga menyatakan komitmen investasi di Indonesia senilai 4 miliar pound sterling, atau setara sekitar Rp 90 triliun.
Adapun kerja sama maritim yang dimaksud adalah Maritime Partnership Programme (MPP), di mana kedua negara berkomitmen untuk mengembangkan kemampuan maritim Indonesia seperti peningkatan kapasitas angkatan laut dan pengadaan lebih dari 1.000 armada perikanan guna mendukung ketahanan pangan nasional.
Ia menambahkan, Inggris juga berkomitmen untuk berinvestasi di Indonesia sebesar 4 miliar Pound Sterling atau sekitar Rp90 triliun. Hubungan diplomatik Indonesia dan Inggris sudah terjalin sejak Desember 1949 atau lebih dari tujuh decade. Selama itu, hubungan dirawat dengan perjanjian hingga kepentingan strategis.
Adapun kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan antara Prabowo bertemu dengan PM Starmer pada Selasa kemarin di kantor Perdana Menteri Inggris, Downing Street Nomor 10, London. Dalam pertemuan tersebut Kedua pemimpin membahas penguatan kemitraan strategis Indonesia-Inggris, termasuk kerja sama ekonomi, pembangunan manusia, pertahanan dan politik luar negeri, ekonomi biru, serta transisi energy.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

