Ratusan warga pengungsi di Aceh Tamiang mulai menghuni rumah sementara di Kompleks Rumah Hunian Danantara yang dibangun Pemerintah melalui BUMN, lebih dari sebulan setelah kehilangan rumah akibat bencana. Mereka menyatakan rasa syukur atas fasilitas lengkap yang menyediakan rasa aman dan pemulihan hidup normal. Hunian ini dirancang modular dengan akses listrik, WiFi gratis, dan klinik kesehatan terdekat.
Pemandangan ceria mendominasi kompleks hunian berderet rapi tersebut sore hari ini. Anak-anak berlarian bermain ayunan di taman terbuka, melompat di kasur bersih, dan menikmati ruang bebas yang tak ada saat tinggal di tenda darurat. Orang tua duduk santai di kursi taman depan unit, mengawasi buah hati mereka dengan wajah penuh harap.
Rika Jahara, salah satu penghuni baru, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
“Senang sekali saya, senang. Rasanya jangan dipindah lagi. Terima kasih pemerintah sudah dikasih tempat tinggal kami. Soalnya rumah kita tidak ada lagi. Terima kasih pemerintah,” ujarnya dengan mata berbinar.
Setiap unit hunian sementara dilengkapi satu pintu, satu jendela untuk sirkulasi udara, dua tempat tidur, lemari, kipas angin, serta meja makan. Akses jalan antarblok menggunakan rumput buatan asri, ditambah pot tanaman di setiap pintu. Fasilitas pendukung mencakup meteran listrik mandiri, WiFi gratis dari Telkom Indonesia, dan infrastruktur seperti klinik kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, dr. Mustakif, menjamin layanan kesehatan optimal.
“Di belakang kami, ini ada klinik kesehatan. Tiap hari dan tanpa ada hari libur, baik anak kecil, bayi, sampai dengan lansia, dengan yang penyintas ataupun yang berisiko, termasuk ibu hamil nanti,” katanya.
Konsep modular cepat ini bukan hanya tempat berteduh, tapi ruang pemulihan bagi warga yang sebelumnya kekurangan ruang bermain anak dan akses layanan dasar di tenda pengungsian. Harapan baru tumbuh di tengah tawa anak-anak dan doa agar tak perlu pindah lagi.
Khofifah Alawiyah – Redaksi

