Chelsea kembali memulai musim kompetisi tanpa sponsor utama permanen di bagian depan jersey, menandai musim ketiga berturut-turut klub asal London tersebut berada dalam kondisi serupa. Kondisi ini terbilang tidak lazim bagi klub dengan skala dan nilai komersial sebesar Chelsea.
Dikutip dari laporan The Athletic, situasi tersebut bukan disebabkan oleh minimnya peminat atau kegagalan negosiasi. Chelsea justru secara strategis memilih menunda kesepakatan sponsor utama, sembari menunggu mitra yang dinilai tepat secara citra dan finansial dibandingkan terburu-buru menandatangani kontrak bernilai rendah.
Dalam laporan tersebut, Chelsea disebut mengincar mitra yang tidak hanya memberikan kontribusi finansial, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan bisnis klub, terutama di sektor data, keterlibatan penggemar, serta inovasi. Bidang teknologi, layanan keuangan, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi area yang diprioritaskan.
Chelsea mematok nilai kerja sama sponsor utama di kisaran £60 juta hingga £65 juta per musim. Nilai tersebut dipandang sejalan dengan kontrak yang dimiliki klub-klub elite Liga Inggris seperti Liverpool, Manchester City, dan Manchester United.
Meski belum memiliki sponsor utama permanen, manajemen klub tetap optimistis terhadap kondisi finansial secara keseluruhan. Peningkatan pendapatan dari penjualan tiket, sektor ritel, serta sektor komersial lainnya disebut mampu menjaga stabilitas keuangan klub.
Akbari Danico – Redaksi

