Desa Lubuk Sidup di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, yang sempat terisolasi akibat banjir, segera kembali terhubung. Personel TNI terus mempercepat pembangunan jembatan gantung untuk memulihkan akses masyarakat di wilayah tersebut.
Pantauan di lapangan pada Minggu (18/1) menunjukkan para prajurit TNI telah menyelesaikan pembangunan fondasi di kedua sisi sungai. Di atas fondasi batu yang kokoh, tiang-tiang berwarna biru telah berdiri dan siap disambungkan dengan badan jembatan. Bendera Merah Putih tampak berkibar di area pembangunan.
Sling-sling besi juga telah terbentang sebagai rangka utama jembatan. Selanjutnya, pijakan akan dipasang agar jembatan gantung sepanjang 120 meter itu dapat segera difungsikan dalam waktu dekat.
Pembangunan jembatan gantung ini dilakukan oleh prajurit TNI Angkatan Darat dari jajaran Komando Resor Militer (Korem) 001/Lilawangsa. Dalam prosesnya, TNI turut melibatkan peran sipil, khususnya untuk mendukung aspek teknis konstruksi.
Jembatan darurat yang dibangun di atas Sungai Tamiang tersebut nantinya akan menghubungkan kembali Kecamatan Sekerak dengan Bandar Pusaka. Sambil menunggu jembatan selesai, masyarakat untuk sementara masih mengandalkan perahu atau boat sebagai sarana penyeberangan.
Selain memudahkan mobilitas warga, keberadaan jembatan gantung ini juga menjadi akses vital untuk distribusi logistik dan material pembangunan desa yang terdampak banjir. Secara nasional, pemerintah menargetkan pembangunan 200 jembatan di wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat hingga Februari 2026.
Jembatan-jembatan tersebut dibangun untuk menyambung kembali jalur darat yang terputus akibat banjir dan tanah longsor pada akhir November 2025. Adapun 200 jembatan yang ditargetkan terdiri atas beberapa jenis, di antaranya jembatan bailey, jembatan armco, dan jembatan gantung.
Akbari Danico – Redaksi

