World

Trump Klaim AS Tangkap Presiden Venezuela dalam Operasi Militer Besar

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pasukan militer AS berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beserta Ibu Negara Cilia Flores, dalam sebuah operasi militer berskala besar di ibu kota Caracas pada awal Januari 2026. Trump mengumumkan klaim ini melalui media sosial dan konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida.

Menurut Trump, operasi itu melibatkan lebih dari 150 pesawat militer dan pasukan elite, yang dilancarkan setelah serangkaian serangan udara dan serangan terhadap instalasi militer di Venezuela pada 3 Januari.

Dalam keterangannya, Trump menegaskan bahwa dia memerintahkan operasi untuk menindak jaringan narkoterrorisme yang dituding AS dipimpin oleh Maduro.

“Saya bangga mengatakan bahwa pasukan kita telah melakukan pekerjaan luar biasa. Operasi ini sangat kompleks, dan kami berhasil menangkap Maduro serta istrinya tanpa korban jiwa di pihak kami,” ujar Trump kepada wartawan, mengklaim keberhasilan misi tersebut.

Trump juga menambahkan bahwa sebelum serangan, sejumlah fasilitas di Caracas sempat lumpuh akibat ledakan dan gangguan jaringan listrik yang menyertai operasi tersebut, meski detail teknisnya tidak dijelaskan secara terperinci. Setelah penangkapan, Maduro dan Flores dilaporkan dibawa ke kapal angkatan laut AS sebelum dipindahkan ke New York, di mana keduanya akan menghadapi dakwaan narkotika dan narco-terrorisme di pengadilan federal AS.

Trump menyatakan bahwa bukti tuduhan akan dipaparkan di pengadilan. Klaim Trump ini memicu reaksi keras dari pemerintah Venezuela dan komunitas internasional.

Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menuntut agar AS segera menunjukkan “bukti kehidupan” Presiden Maduro dan Flores, karena pemerintah Caracas tidak menerima konfirmasi resmi mengenai keberadaan keduanya.

Respons global juga mencatat kekhawatiran seputar legalitas dan implikasi tindakan tersebut terhadap hukum internasional. Sejumlah negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa serta pakar hukum internasional mengkritik tindakan AS sebagai pelanggaran kedaulatan nasional dan piagam PBB.

Dalam sidang singkat di pengadilan Manhattan, Maduro yang mengenakan pakaian tahanan menyatakan dirinya tidak bersalah dan mengklaim dirinya sebagai “presiden yang diculik,” sambil menolak tuduhan yang diajukan terhadapnya. Ibu Negara Cilia Flores juga mengaku tidak bersalah dan dilaporkan mengalami cedera selama penangkapan.

Kritikus internasional menilai bahwa operasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang tata kelola global, batas intervensi militer, dan dampak terhadap stabilitas kawasan Amerika Latin, sementara Trump mempertahankan bahwa tindakan tersebut diperlukan demi menegakkan hukum dan memerangi kejahatan transnasional.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...