World

Usai Serangan AS, Venezuela Ajukan Permintaan Pertemuan Darurat DK PBB

Venezuela meminta Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat untuk membahas serangan militer Amerika Serikat (AS) yang terjadi di negara itu pada Sabtu (3/12) dini hari waktu setempat. Permintaan tersebut disampaikan menyusul sejumlah aksi militer AS yang dilaporkan terjadi di ibu kota Caracas.

Menteri Luar Negeri Venezuela, Yván Gil Pinto, menyatakan pemerintahnya telah mengirimkan surat resmi kepada PBB terkait insiden tersebut. Pernyataan itu disampaikan Pinto melalui akun Telegram pribadinya, disertai arsip digital surat yang dikirimkan kepada Sekretariat PBB.

“Tidak ada serangan pengecut yang akan berhasil melawan kekuatan rakyat Venezuela ini, yang akan keluar sebagai pemenang,” ujar Pinto seperti dikutip dari CNN.

DK PBB merupakan badan utama PBB yang bertugas menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Dewan ini memiliki kewenangan untuk menginvestigasi konflik, merekomendasikan penyelesaian damai, menjatuhkan sanksi, hingga mengizinkan penggunaan kekuatan militer. DK PBB beranggotakan 15 negara, dengan lima anggota tetap yang memiliki hak veto, yakni Inggris, Prancis, China, Rusia, dan Amerika Serikat.

Hak veto memungkinkan satu negara anggota tetap menggagalkan resolusi DK PBB meskipun mendapat dukungan mayoritas anggota lainnya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, mengatakan serangan AS berdampak pada sejumlah kawasan permukiman urban di Caracas. Ia menyebut setidaknya tujuh titik menjadi sasaran rudal atau tembakan dari helikopter tempur AS, termasuk fasilitas militer Fort Tiuna.

Dikutip dari CNN, López menyatakan pemerintah masih mengumpulkan data terkait jumlah korban, baik yang terluka maupun tewas. Ia juga menegaskan Venezuela menolak kehadiran pasukan asing di wilayahnya.

“Invasi ini merupakan penghinaan terbesar yang pernah diderita negara ini,” kata López.

Serangan tersebut memicu kecaman dari sejumlah negara di kawasan Amerika Latin, termasuk Kuba dan Kolombia. Mengutip AFP, Kolombia bahkan telah mengerahkan pasukan militernya ke perbatasan dengan Venezuela.

Presiden Kolombia Gustavo Petro mengatakan pengerahan pasukan dilakukan sebagai respons atas serangan AS. Ia menilai tindakan Washington sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan kawasan Amerika Latin dan berpotensi memicu krisis kemanusiaan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, dan membawa keduanya keluar dari wilayah Venezuela. Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social.

“Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela,” tulis Trump, seperti dikutip dari CNN. Ia juga menegaskan operasi tersebut merupakan “serangan skala besar” yang dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Venezuela terkait klaim penangkapan tersebut. Mengutip Reuters, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez pada Sabtu pagi menyatakan belum mengetahui keberadaan Maduro dan Flores.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...