World

Warga Greenland Resah atas Klaim Trump Ingin Ambil Alih Pulau Mereka

Warga Greenland menyuarakan kekhawatiran akan hilangnya kendali atas tanah air mereka menyusul pernyataan berulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan keinginannya untuk mengambil alih pulau tersebut. Pernyataan itu memicu keresahan di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pendidik hingga pelaku usaha lokal.

Seorang guru sekolah menengah, Simone Bagai, menilai klaim Trump mencerminkan ketidakpahaman terhadap hak konstitusional dan prinsip moral yang dianut masyarakat Greenland. Ia menegaskan bahwa Greenland adalah milik rakyatnya dan bukan objek yang dapat diperjualbelikan oleh kekuatan asing.

“Ia menunjukkan ketidakpahaman total terhadap hak konstitusional dan integritas moral,” ujar Bagai, seperti dikutip CNN.

“Greenland adalah milik rakyat Greenland, dan apakah mereka ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat? Jelas tidak. Hal itu sudah disampaikan berkali-kali dengan cara yang sopan,” tambahnya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh insinyur pemerintah daerah, Ludvig Petersen. Ia secara tegas menolak gagasan Greenland menjadi bagian dari Amerika Serikat dan menilai hal tersebut berpotensi mengubah sistem sosial yang selama ini dijunjung masyarakat.

“Saya tidak suka gagasan menjadi bagian dari Amerika. Kekhawatiran utama saya adalah privatisasi layanan kesehatan dan pendidikan. Itu bukan sesuatu yang biasa bagi kami,” kata Petersen.

Pernyataan Trump yang menyebut akan “melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak,” membuat Petersen yakin bahwa ancaman pengambilalihan bukan sekadar retorika politik.

“Saya takut ia akan melakukannya,” ujarnya.

Di sisi lain, warga juga menyoroti tantangan internal yang tengah dihadapi Greenland, termasuk dampak perubahan iklim. Seorang sopir taksi Inuit menceritakan bagaimana mencairnya es memutus tradisi berburu anjing laut dan menjadikan pemeliharaan puluhan anjing sebagai beban ekonomi. Keseimbangan antara manusia dan alam, yang selama ini menjadi inti kehidupan Greenland, kian tergerus.

Pemilik usaha pakaian dari kulit anjing laut, Mia Chemnitz, menekankan adanya kesenjangan pemahaman antara dunia luar dan masyarakat lokal Greenland. Menurutnya, perbincangan global kerap mengabaikan dimensi kemanusiaan di balik wilayah tersebut.

“Ketika saya berbicara tentang Greenland, saya berbicara tentang masyarakat, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di sini,” ujarnya.

“Namun, ketika dunia membicarakan Greenland, yang dibahas adalah wilayah dan sumber daya. Itu bukan hal yang sama,” tambah Chemnitz.

Chemnitz juga mempertanyakan motif di balik ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland. Ia menilai retorika Trump justru menimbulkan keraguan warga untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan AS.

Sebagai masyarakat damai tanpa kekuatan militer, warga Greenland menyadari keterbatasan mereka dalam menghadapi kekuatan besar. Meski demikian, seperti mayoritas warga Greenland—lebih dari 85 persen—Chemnitz mendukung kemerdekaan dari Denmark, sembari menyadari bahwa kemandirian penuh bukanlah hal mudah dan memerlukan dukungan internasional.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...