Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang merupakan alumnus beasiswa negara dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menyampaikan permohonan maaf secara terbuka setelah pernyataannya di media sosial menuai sorotan publik. Permintaan maaf tersebut disampaikan melalui unggahan di akun pribadinya menyusul kontroversi atas kalimat yang dianggap menyinggung identitas kebangsaan.
Pemilik akun @sasetyaningtyas menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf kepada masyarakat atas pernyataan yang sebelumnya diunggah di Instagram. Ia mengakui bahwa pernyataan tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan dan melukai perasaan banyak pihak.
“Saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” tulisnya dalam pernyataan resmi.
Ia menjelaskan bahwa kalimat tersebut muncul dari kondisi emosional pribadi, termasuk rasa kecewa, lelah, dan frustrasi atas berbagai pengalaman yang dialaminya. Meski demikian, ia menyadari bahwa cara penyampaian tersebut tidak tepat, terutama karena berkaitan dengan identitas sebagai warga negara Indonesia.
“Saya sepenuhnya menyadari bahwa kalimat itu kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia,” ujarnya.
Dalam pernyataan itu, ia juga mengakui kesalahan dalam memilih kata dan menyampaikannya di ruang publik. Ia menegaskan bahwa seluruh dampak dari pernyataan tersebut menjadi tanggung jawabnya secara pribadi, terlepas dari latar belakang emosi yang melatarinya.
Ia menambahkan bahwa kritik dan masukan dari masyarakat menjadi pelajaran penting untuk memperbaiki cara berkomunikasi di ruang publik. Ia juga menegaskan kecintaannya terhadap Indonesia dan harapannya untuk tetap dapat memberikan kontribusi positif di masa mendatang.
“Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan,” tulisnya.
Sebelumnya, sebagaimana dikutip oleh CNNIndonesia dan dilaporkan detikcom, pernyataan tersebut muncul dalam sebuah video yang diunggah setelah ia menerima dokumen dari Home Office Inggris. Dokumen tersebut menyatakan bahwa kedua anaknya telah resmi memperoleh kewarganegaraan Inggris.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik dan memicu diskusi luas mengenai identitas, nasionalisme, serta tanggung jawab dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Permohonan maaf yang disampaikan diharapkan menjadi langkah reflektif sekaligus pengingat akan pentingnya komunikasi yang bijaksana dan empatik, khususnya dalam isu yang berkaitan dengan identitas kebangsaan.
Akbari Danico – Redaksi

