Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah mempercepat pelaksanaan berbagai proyek hilirisasi strategis di sejumlah sektor industri nasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai tambah sumber daya alam sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di berbagai daerah.
Chief Executive Officer Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 20 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai USD 26 miliar atau setara Rp 429 triliun. Proyek-proyek tersebut diproyeksikan mampu menciptakan hingga 600 ribu lapangan kerja baru sepanjang tahun ini.
“Total proyeknya USD 26 miliar, dan diperkirakan akan mempekerjakan sekitar 600 ribu orang, sehingga menciptakan 600 ribu lapangan pekerjaan,” ujar Rosan dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (14/2).
Dari total proyek tersebut, enam proyek hilirisasi telah memulai tahap groundbreaking pada bulan ini dengan nilai investasi mencapai USD 7 miliar atau setara Rp 110 triliun. Proyek-proyek tersebut mencakup hilirisasi bauksit di Mempawah, pengembangan bioetanol di Banyuwangi, pembangunan biorefinery di Cilacap, proyek Integrated Poultry di Malang hingga Nusa Tenggara Barat, serta pengolahan garam dan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) di Gresik hingga Sampang.
Selain itu, Danantara juga tengah mempersiapkan 14 proyek hilirisasi lanjutan yang akan segera direalisasikan. Proyek-proyek tersebut meliputi pengolahan batubara menjadi Dimethyl Ether (DME), produksi stainless steel slab berbasis nikel, pengembangan modul surya dari bauksit dan silika, pembangunan kilang minyak, hilirisasi rumput laut, pengembangan produk turunan kelapa sawit, hingga hilirisasi kelapa terintegrasi.
Rosan menegaskan bahwa program hilirisasi memiliki potensi besar dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional sekaligus memperkuat struktur industri domestik.
“Insyaallah berikutnya akan disusul 14 proyek lagi. Hilirisasi akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian,” ujarnya.
Proyek-proyek tersebut juga tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, antara lain Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, hingga Nusa Tenggara Barat. Persebaran ini diharapkan mampu mendorong pemerataan ekonomi, mempercepat pembangunan daerah, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar wilayah perkotaan utama.
Akbari Danico – Redaksi

