National

Deregulasi Prabowo Dongkrak Produksi Pangan, Indonesia Capai Swasembada Beras

Langkah deregulasi yang diambil Presiden Prabowo Subianto serta peningkatan anggaran sektor pertanian terbukti mendorong lonjakan produksi pangan nasional. Dalam kurun waktu satu tahun, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dan memperkuat ketahanan pangan domestik.

Salah satu kebijakan kunci yang diterapkan adalah penyederhanaan regulasi distribusi pupuk subsidi. Sebelumnya, proses distribusi pupuk memerlukan 145 regulasi dengan persetujuan dari 12 menteri, 38 gubernur, serta 514 bupati dan wali kota. Kini, proses tersebut dipangkas secara signifikan dan hanya memerlukan persetujuan dari Menteri Pertanian, Pupuk Indonesia Holding Company, dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

Penyederhanaan ini memungkinkan pupuk subsidi sampai tepat waktu kepada petani, khususnya pada masa tanam. Dampaknya, produksi pangan nasional meningkat tajam, kesejahteraan petani membaik, serta ketergantungan pada impor pangan seperti beras dan jagung pakan ternak berhasil ditekan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa kinerja sektor pertanian menunjukkan peningkatan signifikan, tercermin dari lonjakan nilai ekspor. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, ekspor pertanian mencapai Rp 629,76 triliun, meningkat Rp 158,38 triliun atau 33,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, impor pangan mengalami penurunan. Pada periode Januari hingga Oktober 2025, nilai impor tercatat sebesar Rp 321,14 triliun, turun 9,49 persen atau Rp 34,08 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai Rp 355,22 triliun. Penurunan ini terutama didorong oleh peningkatan produksi dalam negeri, khususnya komoditas beras dan jagung.

“Karena kebijakan deregulasi yang dikeluarkan Bapak Presiden, ekspor pertanian kita naik Rp 158 triliun, sementara impor kita turun Rp 34 triliun,” ujar Amran dalam Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2).

Ia juga menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi mengimpor jagung untuk kebutuhan pakan ternak sepanjang 2025. Selain itu, berkurangnya impor beras dalam jumlah besar turut memberikan dampak terhadap stabilitas harga pangan global.

“Impor jagung pakan nol pada 2025. Indonesia juga menurunkan tekanan harga beras dunia karena sebelumnya impor mencapai sekitar 7 juta ton atau senilai Rp 100 triliun,” jelasnya.

Menurut Amran, dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani. Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang meningkat menjadi 125, serta cadangan beras nasional yang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa reformasi kebijakan dan dukungan anggaran yang konsisten mampu memperkuat fondasi sektor pertanian nasional, sekaligus memastikan keberlanjutan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di masa depan.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...