Presiden Iran Masoud Pezeshkian memutuskan untuk membuka pintu perundingan nuklir dengan Amerika Serikat setelah meningkatnya tekanan dan ancaman dari Presiden AS Donald Trump apabila Teheran terus menolak jalur dialog. Keputusan ini menandai pelunakan sikap Iran di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara kedua negara.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa Teheran tetap mengedepankan diplomasi, sembari memperingatkan akan memberikan respons tanpa batas terhadap setiap bentuk agresi yang diarahkan ke wilayahnya.
Kantor berita Iran, Fars, pada Senin (2/2) melaporkan bahwa Presiden Pezeshkian telah memerintahkan dimulainya perundingan dengan Amerika Serikat terkait program nuklir Iran. Laporan tersebut mengutip sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya. Informasi serupa juga dimuat oleh sejumlah media pemerintah Iran lainnya serta harian reformis Shargh.
Seorang pejabat negara Arab yang berbicara kepada AFP mengungkapkan bahwa Iran dan Amerika Serikat bahkan telah merencanakan pertemuan awal yang kemungkinan digelar di Turki pada Jumat mendatang. Pertemuan ini disebut berlangsung setelah adanya intervensi diplomatik dari Mesir, Qatar, Turki, dan Oman untuk menjembatani pembahasan isu sensitif tersebut.
Mengutip dua sumber, situs berita AS Axios melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diperkirakan akan bertemu dengan utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff, di Istanbul untuk membahas peluang tercapainya kesepakatan terkait isu nuklir.
Dalam wawancara dengan CNN pada Minggu (1/2/2026), Araghchi menegaskan keselarasan posisi antara kedua pihak terkait larangan senjata nuklir.
“Presiden Trump mengatakan tidak ada senjata nuklir, dan kami sepenuhnya setuju. Kami sepenuhnya setuju dengan itu. Itu bisa menjadi kesepakatan yang sangat baik,” ujar Araghchi.
Ia menambahkan bahwa Iran mengharapkan pencabutan sanksi sebagai imbalan dari kesepakatan tersebut.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan bahwa Teheran tengah menyiapkan metode dan kerangka perundingan yang akan rampung dalam beberapa hari ke depan. Ia menjelaskan bahwa komunikasi awal antara kedua pihak masih difasilitasi oleh para aktor regional.
Upaya diplomatik ini berlangsung di tengah eskalasi ketegangan, menyusul ancaman Presiden Trump yang menyatakan kesiapan untuk melakukan aksi militer terhadap Iran setelah mengirimkan armada kapal induk ke Timur Tengah. Ancaman tersebut muncul sebagai respons atas demonstrasi berdarah di Iran sejak akhir Desember lalu yang dilaporkan menewaskan ribuan orang.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya juga memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika Serikat ke wilayah Iran akan memicu “perang regional”.
Di tengah situasi tersebut, Turki mengambil peran aktif dalam mendorong deeskalasi melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diketahui telah mengunjungi Istanbul pekan lalu dan melakukan pembicaraan dengan sejumlah mitra regional, termasuk Mesir, Arab Saudi, dan Yordania. Pada Senin, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi turut menegaskan kepada Araghchi bahwa negaranya tidak akan menjadi medan pertempuran maupun titik peluncuran aksi militer terhadap Iran.
Akbari Danico – Redaksi

