Pasukan militer Israel menggelar latihan perang berskala besar dengan mensimulasikan serangan Iran menggunakan sekitar 2.000 peluru kendali. Latihan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran dalam beberapa waktu terakhir.
Surat kabar Maariv, Selasa (3/2), melaporkan bahwa latihan tersebut digelar oleh Komando Garda Depan Israel sekitar pukul 02.00 dini hari. Simulasi ini disebut sebagai latihan terbesar yang dilakukan Israel dalam periode terakhir, dengan fokus pada skenario pertahanan sipil akibat serbuan rudal.
Latihan melibatkan ratusan personel militer dan para komandan, serta dilaksanakan di fasilitas pangkalan militer Zikim, wilayah selatan Tel Aviv. Simulasi tersebut menggambarkan serangan rudal Iran yang menargetkan pusat-pusat populasi utama di Israel.
“Komando Garda Depan melakukan latihan terbesar dalam beberapa waktu terakhir, yang mensimulasikan perawatan dan penyelamatan korban dari lokasi kehancuran,” tulis Maariv, seperti dikutip Anadolu Agency.
Dalam laporan lanjutan, Maariv menyebut latihan ini mencakup skenario runtuhnya bangunan dan menara, serta kehancuran yang meluas akibat serangan rudal. Militer Israel menegaskan bahwa latihan tersebut merupakan simulasi paling signifikan sejak ketegangan dengan Iran meningkat, meski mereka menekankan bahwa agenda latihan telah direncanakan sebelumnya.
Situasi kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Amerika Serikat mengerahkan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln ke sekitar wilayah Iran. Pemerintah AS menyatakan kapal perang tersebut siap melakukan serangan apabila Teheran tidak menghentikan tindakan kekerasan terhadap pedemo dan gagal mencapai kesepakatan terkait program nuklir.
Iran sendiri menegaskan akan membalas setiap serangan yang dilancarkan terhadap wilayahnya. Meski demikian, Teheran juga membuka ruang dialog dan dikabarkan akan kembali memulai pembicaraan dengan Amerika Serikat pada Jumat (6/2).
Seorang pejabat AS menyebut Israel tetap bersikeras untuk melancarkan serangan dalam eskalasi kali ini. Namun Washington dikabarkan tidak berniat melakukan langkah militer dan lebih mendorong tercapainya solusi melalui jalur negosiasi.
Akbari Danico – Redaksi

