Densus 88 AT Polri melalui Direktorat Pencegahan menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi kebangsaan dan deteksi dini di SMA HighScope Indonesia TB Simatupang. Kegiatan ini menyasar para orang tua siswa sebagai bagian dari upaya pencegahan intoleransi dan radikalisme di lingkungan pendidikan. Pendekatan yang diambil menekankan peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak. Forum ini juga menjadi ruang dialog mengenai tantangan pengasuhan di tengah derasnya arus informasi digital.
Kompol Ridjoko memaparkan pentingnya keterlibatan aktif orang tua dalam membangun karakter, mengawasi pergaulan, serta memantau aktivitas digital anak. Ia menegaskan bahwa keluarga merupakan garda terdepan dalam menanamkan nilai toleransi dan kebangsaan.
Menurutnya, ketahanan mental, empati, dan komunikasi terbuka di dalam keluarga menjadi kunci untuk mencegah paparan pengaruh negatif. Penekanan tersebut menempatkan orang tua sebagai aktor strategis dalam sistem pencegahan berbasis komunitas.
Sebanyak 80 orang tua siswa jenjang SMP dan SMA menghadiri kegiatan tersebut. Diskusi difokuskan pada peningkatan kesadaran dalam mendampingi anak menghadapi dinamika perkembangan remaja serta paparan informasi yang tidak terfilter. Edukasi ini diarahkan untuk memperkuat sinergi antara sekolah, orang tua, dan aparat dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman. Kegiatan tersebut mencerminkan pendekatan preventif yang berbasis literasi dan penguatan nilai.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan orang tua semakin proaktif dalam mendeteksi perubahan perilaku dan membangun komunikasi yang sehat dengan anak. Upaya pencegahan intoleransi dan radikalisme diposisikan sebagai tanggung jawab bersama antara keluarga dan institusi pendidikan. Dengan penguatan peran keluarga, lingkungan pendidikan diharapkan tetap kondusif dan inklusif. Pendekatan kolaboratif ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga ketahanan sosial.
Alexander Jason – Redaksi

