Perekonomian Jakarta tumbuh 5,21 persen sepanjang 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 5 Februari 2026 juga mencatat kontribusi Jakarta terhadap ekonomi nasional mencapai 16,61 persen.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyatakan capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga iklim usaha serta aktivitas ekonomi kota.
Sepanjang 2025, hampir seluruh sektor usaha mencatat pertumbuhan positif, dengan sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh tertinggi sebesar 9,33 persen, diikuti Transportasi dan Pergudangan 8,69 persen, serta Jasa Lainnya 8,46 persen.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80 persen, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 33,79 persen, serta konsumsi pemerintah sebesar 13,20 persen. Struktur ini menegaskan pentingnya menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong investasi berkelanjutan.
Momentum pertumbuhan tercatat semakin menguat pada Triwulan IV-2025, dengan laju ekonomi mencapai 5,71 persen (year on year). Pada periode ini, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 8,40 persen, Jasa Lainnya 8,32 persen, dan Jasa Perusahaan 8,11 persen.
Menurut Gubernur Pramono, kinerja positif pada akhir tahun tidak lepas dari kebijakan yang dirancang untuk menggerakkan aktivitas ekonomi sekaligus memberi ruang bernapas bagi pelaku usaha.
Untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi, Pemprov DKI Jakarta memberikan keringanan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) bagi sektor makanan-minuman dan perhotelan. Insentif pajak sebesar Rp495 miliar tersebut diberikan pada Agustus–Desember 2025 dan dinikmati oleh 45.248 objek pajak.
Khofifah Alawiyah – Redaksi

