Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (2/1), setelah pelaku pasar meredam kekhawatiran akan guncangan pasokan, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Iran yang mengisyaratkan potensi meredanya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Trump sebelumnya berulang kali memperingatkan Iran terkait kemungkinan intervensi militer apabila negara tersebut gagal mencapai kesepakatan nuklir atau terus menindak protes domestik, yang menurut Teheran dipicu oleh negara-negara Barat. Namun, pada Sabtu lalu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Iran kini “secara serius” tengah melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut muncul setelah pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, mengungkapkan melalui platform X bahwa persiapan menuju perundingan tengah berlangsung. Sinyal diplomatik ini meredakan kekhawatiran pasar yang sebelumnya meningkat akibat pengerahan armada militer besar AS ke kawasan Iran pekan lalu.
Sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir seiring kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat melancarkan serangan militer terhadap Iran. Namun, sentimen tersebut berbalik setelah indikasi komunikasi tidak langsung antara kedua negara mulai mencuat.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak acuan global Brent turun 4,96 persen ke level US$65,88 per barel pada pukul 03.22 waktu setempat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga melemah sekitar 5 persen ke posisi US$61,76 per barel.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, mengatakan penurunan harga ini dipicu oleh laporan adanya komunikasi antara Washington dan Teheran melalui perantara, yang memunculkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda alih-alih meningkat.
“Pembicaraan ini berlangsung di saat yang sama ketika Iran mengancam perang regional jika diserang, yang berpotensi mendorong harga minyak jauh lebih tinggi, sesuatu yang ingin dihindari oleh pemerintahan Trump,” ujar Lipow.
Senada dengan itu, ahli strategi makro dan geopolitik BCA Research, Marko Papic, menilai sensitivitas pemerintahan AS terhadap harga minyak dapat menjadi faktor penahan eskalasi lebih lanjut. Menurutnya, kenaikan harga minyak ke kisaran US$70–80 per barel berisiko menekan posisi politik Trump menjelang pemilu paruh waktu.
Selain faktor geopolitik, pasar juga tengah dibayangi oleh tambahan pasokan global. Minyak mentah Venezuela mulai masuk ke pasar dari cadangan lepas pantai dan darat, meski bukan berasal dari peningkatan produksi baru, di tengah kondisi produksi global yang masih melampaui permintaan.
Kedua analis menilai tambahan pasokan tersebut turut menahan laju harga minyak, bersamaan dengan keputusan OPEC+ yang tetap mempertahankan tingkat produksi. Kartel minyak tersebut pada Minggu memutuskan untuk tidak mengubah level produksi pada Maret, sekaligus memperpanjang kebijakan pembekuan pasokan selama tiga bulan.
Akbari Danico – Redaksi

