Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Peter M. Haymond, bersama perwakilan angkatan laut Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat memperingati 84 tahun Pertempuran Selat Sunda pada 26 Februari. Upacara digelar sebagai penghormatan atas keberanian dan pengorbanan para pelaut dan marinir yang gugur dalam pertempuran Perang Dunia II tersebut.
Peringatan ini mengenang peristiwa Battle of Sunda Strait, khususnya awak USS Houston (CA-30) dan HMAS Perth (D29) yang tenggelam di Teluk Banten pada 1 Maret 1942. Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan peran Indonesia sebagai penjaga perairan yang menjadi tempat peristirahatan terakhir kapal perang tersebut.
“Pada hari ini kita mengenang para pelaut USS Houston dan HMAS Perth yang gugur dalam Pertempuran Selat Sunda,” ujar KUAI Haymond. “Bersama mitra Indonesia dan Australia, kita diingatkan bahwa kebebasan dapat tetap terus terjaga melalui kemitraan, pengorbanan, dan komitmen bersama untuk merawat warisan sejarah ini bagi generasi mendatang.”
Penyelenggaraan peringatan di atas kapal Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) menegaskan kuatnya hubungan pertahanan maritim trilateral sekaligus tanggung jawab bersama dalam melindungi makam perang yang berdaulat serta warisan maritim. Upacara tersebut juga memperkuat kerja sama antara Amerika Serikat, Australia, dan Indonesia dalam menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Kemitraan ini tetap penting seiring ketiga negara menghadapi tantangan bersama di bidang keamanan maritim, stabilitas kawasan, serta upaya perlindungan situs warisan seperti Teluk Banten.
Sejumlah langkah yang tengah dilakukan antara lain melalui program hibah Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) oleh Kedutaan Besar AS, pemanfaatan program Overseas Humanitarian, Disaster, and Civic Aid (OHDACA) untuk mendukung masyarakat sekitar, serta rencana survei bersama angkatan laut kedua negara pada 2026 di lokasi bangkai kapal.
Pertempuran Selat Sunda merenggut 696 pelaut dan marinir Amerika setelah pertempuran sengit pada malam hari di lepas pantai Jawa. Dari 368 awak USS Houston yang selamat dari tenggelamnya kapal, banyak yang tetap melakukan perlawanan meski ditawan di Jawa, Singapura, Myanmar, Thailand, dan Jepang. Hingga akhir perang, 291 awak USS Houston kembali ke Amerika sebagai pahlawan.
Sejak 1945, USS Houston Survivors’ Association and Next Generations, yang sebelumnya bernama USS Houston Survivors Association, rutin menggelar pertemuan tahunan di Houston, Texas, untuk mengenang kapal tersebut dan para awaknya yang gagah berani.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

