Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa negaranya memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Dalam pidato yang disampaikan pada 17 Februari di Kota Tabriz, Khamenei menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali menegaskan kekuatan militer negaranya, termasuk pengerahan kapal perang ke kawasan sekitar Iran.
Menurut Khamenei, meskipun kapal induk merupakan aset militer yang sangat kuat, teknologi persenjataan modern mampu menghancurkan bahkan target paling canggih sekalipun.
“Tentu saja, kapal perang adalah aset militer yang berbahaya. Namun, yang lebih berbahaya daripada kapal perang adalah senjata yang dapat menenggelamkan kapal perang itu ke dasar laut,” ujar Khamenei dalam pidato yang dipublikasikan melalui situs resminya.
Ia juga menyinggung pernyataan Trump yang mengakui bahwa selama lebih dari empat dekade, AS tidak mampu menjatuhkan Republik Islam Iran.
“Dia mengeluh kepada rakyatnya bahwa selama 47 tahun, AS belum mampu melenyapkan Republik Islam. Pengakuan itu benar. Saya katakan, kalian pun tidak akan mampu melakukan hal seperti itu,” tegasnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, terutama terkait negosiasi program nuklir Iran. Trump sebelumnya mengancam akan meluncurkan serangan militer terbatas apabila Iran tidak mencapai kesepakatan baru terkait program nuklirnya.
Pemerintah AS menuntut Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium, sementara Teheran menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil, termasuk energi, kesehatan, dan pertanian.
Dalam pidato yang sama, Khamenei menilai tuntutan AS tidak berdasar dan merupakan bentuk campur tangan terhadap hak kedaulatan negara lain.
“Industri nuklir damai kami bukan untuk perang. Ini untuk menjalankan negara, untuk pertanian, obat-obatan, perawatan kesehatan, energi, dan segala sesuatu yang bergantung pada energi,” kata Khamenei.
Ia juga menegaskan bahwa setiap negara memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir, termasuk pengayaan uranium, sebagaimana diatur dalam pedoman Badan Energi Atom Internasional.
Selain isu nuklir, Khamenei turut menolak tuntutan AS agar Iran menghentikan program rudal balistiknya. Ia menekankan bahwa kemampuan militer merupakan bagian penting dari pertahanan nasional.
“Kita harus memiliki senjata penangkal. Jika suatu negara tidak memiliki kemampuan pertahanan, negara itu akan rentan terhadap ancaman musuh,” ujarnya.
Ketegangan antara kedua negara juga meningkat setelah AS memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln telah lebih dulu dikerahkan, disusul oleh kapal induk USS Gerald R. Ford yang dilaporkan memasuki perairan Mediterania.
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya Washington meningkatkan tekanan terhadap Iran di tengah negosiasi yang masih berlangsung.
Meski demikian, Iran memperingatkan bahwa pihaknya akan merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan jika terjadi serangan, sembari menegaskan bahwa jalur diplomasi masih tetap terbuka.
Akbari Danico – Redaksi

