Industri pengolahan mencapai pertumbuhan tahunan tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Kinerja sektor usaha tersebut berpeluang menjadi mesin pertumbuhan dalam mendorong produktivitas dan daya saing jangka panjang melalui reindustrialisasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada 2025 industri pengolahan tumbuh 5,30 persen dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11 persen. Sektor ini juga menyumbang kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni 19,07 persen.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menyebut pertumbuhan 5,30 persen tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2012. Untuk pertama kalinya sejak 2011, pertumbuhan industri pengolahan kembali melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ini merupakan titik balik penting bagi strategi pembangunan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Menurut Christiantoko, momentum tersebut harus dijaga melalui kebijakan yang konsisten agar tidak bersifat sementara. Reindustrialisasi, kata dia, bukan semata mengejar angka pertumbuhan, melainkan membangun ekosistem industri yang produktif, inovatif, dan terintegrasi dengan rantai nilai global.
Ia menekankan pentingnya investasi jangka panjang pada teknologi dan sumber daya manusia. Dorongan hilirisasi, percepatan adopsi teknologi, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja dinilai krusial untuk memperkuat daya saing industri.
Dari sisi ketenagakerjaan, industri pengolahan menyerap 20,51 juta tenaga kerja per November 2025 atau sekitar 13,87 persen dari total tenaga kerja nasional. Dengan porsi tersebut, industri pengolahan menjadi salah satu sektor penyerap tenaga kerja terbesar setelah pertanian dan perdagangan.
Christiantoko menilai penguatan industri pengolahan berdampak langsung pada masyarakat melalui efek pengganda, mulai dari peningkatan penyerapan tenaga kerja hingga penguatan sektor logistik, perdagangan, dan jasa pendukung.
Meski masih menghadapi tantangan produktivitas, kualitas SDM, adopsi teknologi, dan penguatan rantai pasok domestik, pertumbuhan industri pengolahan pada 2025 dinilai membuka peluang strategis menjadikan reindustrialisasi sebagai agenda besar menuju target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

