Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa pemerintahannya menargetkan seluruh rakyat Indonesia memiliki kualitas hidup yang baik, yaitu dengan terpenuhinya kebutuhan pangan, bisa mengakses layanan kesehatan dan pendidikan yang layak, serta berpenghasilan memadai. Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, Senin (2/1/2026).
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Prabowo menegaskan pemerintah membangun fondasi kemandirian nasional melalui swasembada pangan dan energi. Menurutnya, kedua sektor itu menjadi prasyarat utama bagi suatu negara untuk berdiri mandiri tanpa ketergantungan pada pihak lain.
Prabowo juga menyoroti posisi kelapa sawit sebagai komoditas strategis yang dibutuhkan banyak negara untuk berbagai bahan baku industri. Karena itu, ia menilai pengelolaan sumber daya alam harus memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Selain itu, Prabowo mendorong perubahan aliran perputaran uang agar tidak terpusat di kota-kota besar atau mengalir ke luar negeri. Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah, kata dia, dilakukan melalui pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar masyarakat dan pelaku usaha di daerah.
Di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia kini mencatat sejumlah capaian penting, antara lain cadangan beras pemerintah yang berada pada level tertinggi, perluasan akses pendidikan melalui penyediaan panel interaktif di sekolah-sekolah terpencil, serta penguatan ekonomi pesisir melalui pembangunan dermaga, cold storage, dan penyediaan kapal ikan di kampung-kampung nelayan.
Sebagai informasi, Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 diikuti oleh sekitar 4.487 peserta. Mereka terdiri atas unsur kementerian/lembaga, gubernur, bupati/wali kota, pimpinan DPRD, serta anggota Forkopimda dari tingkat provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Dalam acara itu, Presiden Prabowo juga mengajak semua unsur yang ada di Indonesia untuk ikut berkontribusi dalam menghilangkan kemiskinan. Ia juga menyinggung masih banyak kelompok yang justru menimbulkan keraguan untuk mengatasi kemiskinan.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

