Presiden Kolombia, Gustavo Petro, memimpin langkah penyelamatan diri dari dugaan upaya pembunuhan saat terbang dengan helikopter bersama kedua putrinya pada Selasa (10/2). Perjalanan udara tersebut terpaksa dialihkan ke laut lepas karena kekhawatiran akan serangan tembakan dari pihak tak dikenal di lokasi pendaratan yang telah direncanakan.
Setibanya di perairan Karibia, Petro bersama kru helikopter berkoordinasi dengan angkatan laut Kolombia untuk mencari titik pendaratan alternatif yang aman. Proses ini merupakan hasil respons cepat terhadap informasi intelijen yang menyebutkan helikopter presiden akan menjadi sasaran tembak.
Petro menegaskan bahwa perhatian khusus diberikan pada keselamatan kedua putrinya yang ikut serta dalam perjalanan tersebut. Ancaman yang diterimanya disebut telah berlangsung sejak Oktober tahun lalu dan terkait dengan kartel narkoba yang menargetkannya sejak awal masa jabatan.
“Malam itu, saya tidak bisa mendarat karena saya diberitahu mereka akan menembak helikopter yang saya tumpangi bersama kedua putri saya. Mereka tidak menyalakan lampu di tempat saya seharusnya mendarat,” ujar Petro, menurut laporan penyiar publik Radio Nacional de Colombia.
Petro menegaskan bahwa stabilitas keamanan kepala negara adalah fondasi penting bagi keberlangsungan pemerintahan dan proses demokrasi di Kolombia. Dengan situasi yang semakin memanas menjelang pemilihan presiden, kepala negara diyakini akan terus berada dalam siaga permanen terhadap berbagai kemungkinan ancaman.
Akbari Danico – Redaksi

