Pakistan melancarkan serangkaian serangan udara lintas batas yang menargetkan lokasi yang disebut sebagai kamp pelatihan dan persembunyian kelompok militan di wilayah timur Afghanistan pada Minggu (22/2). Operasi militer tersebut menjadi salah satu eskalasi terbesar dalam konflik perbatasan kedua negara dalam beberapa bulan terakhir.
Kementerian Pertahanan Afghanistan melaporkan bahwa serangan tersebut mengakibatkan puluhan korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, yang tewas maupun terluka. Insiden ini terjadi pada awal bulan suci Ramadan dan memperburuk ketegangan yang telah berlangsung sejak bentrokan perbatasan pada Oktober lalu.
Pemerintah Pakistan menyatakan bahwa operasi udara tersebut menargetkan tujuh lokasi di sepanjang wilayah perbatasan. Islamabad menyebut serangan itu sebagai bagian dari respons terhadap gelombang serangan bom bunuh diri yang baru-baru ini terjadi di wilayahnya, yang dikaitkan dengan kelompok militan lintas batas.
Menurut pernyataan resmi yang dikutip dari laporan AFP, operasi berbasis intelijen tersebut menyasar kamp milik Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) serta afiliasi regional ISIS. Pakistan juga menuding otoritas Taliban di Afghanistan tidak mengambil tindakan terhadap kelompok militan yang diduga menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis serangan terhadap Pakistan.
Namun, pihak Afghanistan membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa serangan justru menghantam kawasan sipil, termasuk madrasah dan rumah penduduk di Provinsi Nangarhar dan Paktika. Otoritas setempat melaporkan adanya keluarga yang menjadi korban di dalam rumah yang hancur akibat serangan udara tersebut.
Sementara itu, tim penyelamat dan warga setempat dilaporkan melakukan pencarian korban menggunakan alat berat dan peralatan sederhana di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat pengeboman. Situasi di wilayah terdampak dilaporkan masih mencekam, dengan upaya evakuasi korban yang terus berlangsung.
Pemerintah Afghanistan mengecam keras serangan tersebut dan menyatakan akan memberikan respons yang tepat dan terukur. Ketegangan antara kedua negara terus meningkat sejak kelompok Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021, yang memicu kekhawatiran terkait keamanan kawasan perbatasan.
Berbagai upaya diplomatik sebelumnya telah dilakukan untuk meredakan konflik, termasuk mediasi oleh Qatar dan Turki, namun belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Ketegangan berkepanjangan tersebut juga berdampak pada penutupan perbatasan darat, yang mempengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat di kedua negara.
Serangan terbaru ini terjadi setelah ledakan bom bunuh diri di sebuah masjid di Islamabad yang menewaskan sedikitnya 40 orang, salah satu serangan paling mematikan di ibu kota Pakistan dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok ISIS-Khorasan dilaporkan mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, yang semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan.
Akbari Danico – Redaksi

