Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menegaskan tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya meski pemerintahan yang dipimpinnya diguncang mundurnya kepala staf dan direktur komunikasi secara beruntun. Penegasan itu disampaikan Starmer dalam pidato di hadapan parlemen pada Senin (9/2) malam.
Starmer mengatakan dirinya telah melewati berbagai rintangan dan kritik sepanjang perjalanan politiknya demi memperoleh mandat untuk memimpin dan melakukan perubahan di Inggris. Ia menegaskan tidak akan meninggalkan tanggung jawab tersebut di tengah tekanan politik yang sedang dihadapi.
“Saya selalu menghadapi para pengkritik di setiap langkah, bahkan sampai hari ini. Para pengkritik yang sama sekali tidak menginginkan pemerintahan Partai Buruh, dan tentu saja tidak menginginkan pemerintahan yang berhasil,” ujar Starmer, seperti dikutip The Guardian.
Ia menambahkan bahwa setelah berjuang keras untuk mendapatkan kesempatan memimpin, dirinya tidak siap meninggalkan mandat yang diberikan rakyat.
“Saya tidak siap untuk meninggalkan tanggung jawab saya kepada negara atau menjerumuskan Inggris ke dalam kekacauan,” kata Starmer.
Keguncangan politik ini dipicu oleh terungkapnya hubungan mantan menteri Inggris Peter Mandelson dengan pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Mandelson merupakan anggota Partai Buruh pimpinan Starmer sekaligus anggota majelis tinggi parlemen Inggris, House of Lords.
Kontroversi tersebut mencoreng citra Partai Buruh yang saat ini berkuasa. Mandelson kemudian mengundurkan diri dari House of Lords dan Partai Buruh. Pekan lalu, Starmer juga menyatakan penyesalannya karena pernah mempercayai Mandelson dan menunjuknya sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat.
Dampak dari polemik ini berlanjut dengan mundurnya kepala staf PM, Morgan McSweeney, serta direktur komunikasi, Tim Allan. McSweeney mengakui bahwa keputusan menunjuk Mandelson sebagai duta besar merupakan kesalahan, sementara Allan menyatakan pengunduran dirinya bertujuan memberi ruang pembentukan tim baru di Downing Street.
“Saya memutuskan mundur agar tim baru di No. 10 dapat dibentuk. Saya berharap PM dan timnya sukses,” ujar Allan dalam pernyataan tertulis.
Di tengah situasi tersebut, pemimpin Partai Buruh Skotlandia Anas Sarwar mendesak Starmer untuk mundur. Ia menilai pemerintahan Starmer telah merusak dukungan publik terhadap Partai Buruh di Skotlandia. Jajak pendapat terbaru menunjukkan Partai Buruh berada di posisi ketiga, di bawah Partai Nasional Skotlandia dan Partai Reformasi.
Meski demikian, The Guardian melaporkan adanya perubahan suasana di parlemen setelah pidato Starmer. Sejumlah anggota parlemen disebut mulai menunjukkan optimisme untuk melanjutkan pemerintahan di bawah kepemimpinannya, sementara sejumlah tokoh dan pejabat Partai Buruh juga mulai menyatakan dukungan secara terbuka.
Akbari Danico – Redaksi

