Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, mengungkapkan bahwa jumlah pengungsi akibat bencana di wilayah Sumatra mengalami penurunan signifikan. Pemerintah mencatat jumlah pengungsi yang sebelumnya mencapai lebih dari satu juta orang kini tersisa 12.994 orang yang masih berada di tenda pengungsian.
Pernyataan tersebut disampaikan Tito dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana Sumatra yang digelar di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Rabu (18/2). Ia menjelaskan bahwa penurunan jumlah pengungsi merupakan hasil dari percepatan upaya pemulihan dan relokasi warga terdampak bencana.
“Pengungsi tadinya dua juta lebih sekarang menjadi lebih kurang 12.994 yang ada di tenda,” ujar Tito.
Di Sumatra Barat, Tito memastikan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian. Sebagian besar masyarakat telah kembali ke rumah masing-masing, sementara warga yang rumahnya rusak telah mendapatkan hunian sementara atau tinggal bersama keluarga sambil menunggu pembangunan hunian tetap dari pemerintah.
“Jadi Alhamdulillah untuk Sumatra Barat kami sudah melakukan pengecekan di 16 kabupaten kota yang terdampak, tidak terdapat pengungsi di tenda,” kata Tito.
Sementara itu, di Sumatra Utara, masih terdapat sekitar 850 warga yang tinggal di tenda pengungsian, terutama di wilayah Tapanuli Tengah. Adapun di Aceh, jumlah pengungsi tercatat sebanyak 12.144 orang, dengan konsentrasi terbesar berada di Aceh Utara.
Tito menjelaskan bahwa pemerintah terus melanjutkan upaya pemulihan di berbagai daerah yang terdampak parah. Sejumlah wilayah seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara masih menghadapi kendala berupa tumpukan material kayu yang menghambat akses jalan, serta sedimentasi sungai yang mengganggu fungsi aliran air secara normal.
Selain itu, beberapa daerah di Aceh, termasuk Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Tengah, masih membutuhkan perbaikan fasilitas pendidikan. Di wilayah Nagan Raya, pemulihan aliran sungai juga menjadi prioritas, sementara di Aceh Tengah terdapat fenomena tanah amblas yang menyebabkan terputusnya akses jalan kabupaten.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di seluruh wilayah terdampak, guna memastikan masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas secara normal dan aman pascabencana.
Akbari Danico – Redaksi

