Presiden Donald Trump mengatakan Iran tengah mengembangkan rudal yang berpotensi menjangkau wilayah Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pidato kenegaraan di Gedung Capitol AS pada Selasa (24/2) malam, di tengah meningkatnya ketegangan dan negosiasi nuklir antara kedua negara.
Dalam pidatonya, Trump mengeklaim Teheran tidak hanya mengembangkan rudal yang mampu mengancam kawasan regional, tetapi juga tengah berupaya memperluas jangkauan hingga daratan Amerika Serikat.
“Mereka telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri. Mereka juga sedang berupaya membuat rudal yang akan segera mencapai Amerika Serikat,” ujar Trump di hadapan parlemen.
Trump juga menuduh Iran kembali melanjutkan program nuklirnya setelah sejumlah fasilitas pengayaan uranium dihancurkan tahun lalu. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bertentangan dengan peringatan Washington yang sebelumnya telah menuntut Teheran menghentikan seluruh aktivitas nuklir yang berpotensi mengarah pada pengembangan senjata.
“Namun, mereka memulainya lagi. Kita telah menghancurkannya dan mereka ingin memulainya kembali. Saat ini, mereka lagi-lagi mengejar ambisi jahat tersebut,” kata Trump.
Ia menambahkan bahwa meski negosiasi masih berlangsung, pemerintah AS belum menerima jaminan tegas dari Iran.
“Kami sedang bernegosiasi dengan mereka. Mereka ingin membuat kesepakatan tapi kami belum mendengar kata-kata rahasia itu: Kami tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” lanjutnya.
Putaran ketiga perundingan nuklir antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2). Washington menuntut penghentian penuh program nuklir Iran, sementara Teheran bersikeras bahwa program tersebut ditujukan untuk kepentingan sipil.
Ketegangan semakin meningkat setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 untuk mendukung Israel. Trump sebelumnya juga memperingatkan bahwa Washington siap mempertimbangkan opsi militer apabila kesepakatan nuklir tidak tercapai dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kesepakatan nuklir masih dapat dicapai apabila kedua pihak memprioritaskan jalur diplomasi. Meski demikian, Iran juga menegaskan kesiapan militernya dan memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah dapat menjadi target jika konflik terbuka terjadi.
Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tetap membuka peluang diplomasi, namun tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
“Satu hal yang pasti, saya tidak akan pernah membiarkan sponsor teror nomor satu di dunia memiliki senjata nuklir. Itu tidak boleh terjadi,” tegasnya.
Sementara itu, Badan Intelijen Pertahanan AS sebelumnya memperkirakan Iran berpotensi mengembangkan rudal balistik antarbenua pada 2035 jika negara tersebut mempercepat programnya. Menurut Layanan Penelitian Kongres AS, Iran saat ini memiliki rudal balistik jarak pendek dan menengah dengan jangkauan hingga sekitar 3.000 kilometer, masih jauh dari jarak yang dibutuhkan untuk menjangkau daratan utama Amerika Serikat.
Situasi ini menempatkan negosiasi nuklir dan dinamika militer sebagai faktor kunci dalam menentukan arah hubungan kedua negara, di tengah kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Akbari Danico – Redaksi

