Sebuah video yang diunggah pada Senin menunjukkan Panglima Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Brad Cooper, mengecam serangan bom tandan yang diluncurkan Iran ke wilayah Israel.
Dalam pernyataannya, Cooper menyebut bom tandan sebagai senjata yang “tidak pandang bulu” dan menuding Iran melakukan serangan sembrono yang menyasar kawasan sipil di Tel Aviv. Rekaman video memperlihatkan sejumlah titik cahaya yang melesat di langit malam, diduga berasal dari rudal yang membawa submunisi tersebut.
“Kami bergabung dengan negara-negara di kawasan dalam mengecam agresi ini,” ujarnya.
Bom tandan merupakan jenis senjata yang meledak di udara dan menyebarkan puluhan hingga ratusan bom kecil ke area luas. Sekitar 20 persen dari bom kecil ini sering kali gagal meledak saat jatuh, namun tetap berbahaya karena dapat meledak sewaktu-waktu bahkan bertahun-tahun kemudian.
Meski demikian, penggunaan senjata ini pernah dibela oleh pemerintahan pertama Donald Trump. Pada 2017, Wakil Menteri Pertahanan saat itu Patrick M. Shanahan menyebut bom tandan sebagai “senjata yang sah dengan kegunaan militer yang jelas,” sekaligus membatalkan rencana pelarangan penggunaannya oleh Pentagon.
Kebijakan tersebut sebelumnya dirintis pada 2008 oleh Menteri Pertahanan Robert M. Gates, yang berupaya membatasi dan secara bertahap menggantikan bom tandan karena risikonya terhadap warga sipil. Namun keputusan Shanahan membuka kembali penggunaan senjata tersebut tanpa batas waktu, dengan alasan kebutuhan militer, termasuk menghadapi ancaman Korea Utara.
Secara internasional, penggunaan bom tandan dilarang dalam Convention on Cluster Munitions yang mulai berlaku pada 2010. Lebih dari 100 negara telah menandatangani perjanjian tersebut, namun Amerika Serikat, Rusia, Israel, dan Irantidak termasuk di dalamnya.
Catatan pemerintah menunjukkan penggunaan terakhir bom tandan oleh militer AS terjadi pada 2009 dalam serangan terhadap target yang diduga terkait Al-Qaeda di Yaman.
Di era Joe Biden, kebijakan tersebut tidak dibatalkan. Pemerintah AS justru mengirimkan bom tandan ke Ukraina untuk digunakan dalam perang melawan Rusia. Pengiriman dilakukan dalam beberapa tahap sejak 2023 hingga 2024, termasuk amunisi artileri yang berisi puluhan submunisi.
Pasukan Rusia sendiri dilaporkan juga menggunakan bom tandan secara luas dalam konflik tersebut. Sementara itu, Iran diketahui pernah meluncurkan serangan serupa ke Israel pada Juni lalu.
Upaya terbaru di Kongres AS untuk melarang penggunaan bom tandan kembali gagal pada Juni 2024, setelah ditolak dalam pemungutan suara di DPR.
Akbari Danico – Redaksi

