Militer Amerika Serikat meningkatkan serangan terhadap drone dan kapal angkatan laut Iran dalam upaya memperluas operasi pembukaan kembali Selat Hormuz yang strategis. Sejumlah pejabat AS menyebut langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan setelah Iran secara efektif membatasi jalur pelayaran Barat di kawasan tersebut.
Ketua Joint Chiefs of Staff, Jenderal Dan Caine, pada Kamis (19/3) mengatakan pesawat A-10 Warthog kini digunakan untuk memburu dan menghancurkan kapal cepat milik Garda Revolusi Iran di perairan sengketa. Ia menjelaskan bahwa pesawat yang awalnya dirancang untuk dukungan pasukan darat itu kini dialihfungsikan untuk menyerang target laut.
Lebih lanjut, Caine juga mengungkapkan bahwa beberapa sekutu regional AS turut terlibat dengan mengerahkan helikopter tempur Apache untuk menghadapi drone serangan satu arah yang digunakan Iran. Menurutnya, drone tersebut menjadi salah satu senjata utama Iran dalam menyerang negara-negara Teluk serta fasilitas energi di kawasan.
Komandan militer AS kini mempercepat upaya untuk menghambat kemampuan Iran dalam menggunakan kombinasi ranjau laut, rudal, dan drone bersenjata yang mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah gangguan lebih lanjut terhadap lalu lintas maritim yang berdampak pada lonjakan harga minyak dan stabilitas ekonomi global.
Sebelumnya, Komando Pusat AS juga melaporkan telah menjatuhkan bom penghancur bunker seberat 5.000 pon ke fasilitas rudal bawah tanah di sekitar selat tersebut. Di saat yang sama, sekitar 2.200 marinir AS yang berada di tiga kapal perang dilaporkan bergerak menuju kawasan Teluk Persia setelah menghentikan patroli di Indo-Pasifik.
Pasukan tersebut berpotensi dikerahkan untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran atau mengamankan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran di wilayah tersebut.
Akbari Danico – Redaksi

