Rektor Perbanas Institute, Hermanto Siregar, memuji langkah pemerintah Indonesia yang melakukan pengiriman beras perdana sebanyak 2.280 ton ke Arab Saudi untuk konsumsi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa produksi beras nasional telah mencapai swasembada yang berkelanjutan.
Hermanto menilai, keberhasilan ekspor ini tidak terlepas dari lonjakan produksi dalam negeri yang signifikan sepanjang periode 2025-2026. Ia bahkan menyebut surplus beras tahun ini yakni sekitar 17 juta ton sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
Dengan produksi yang tinggi dan cadangan beras pemerintah yang kuat, kata Hermanto, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga mulai memperkuat posisinya di pasar global melalui ekspor.
Hermanto menambahkan, capaian swasembada dan ekspor harus berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Menurutnya, keberhasilan produksi tidak boleh berhenti pada angka statistik semata.
Hermanto berharap, momentum ekspor ini dapat terus dijaga dengan kebijakan yang konsisten, penguatan distribusi, serta tata kelola stok yang baik. Dengan demikian swasembada beras Indonesia tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan pengamat pertanian dari IPB University, Prima Gandhi. Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang mencatatkan pengiriman beras perdana pada 2026 sebanyak 2.280 ton ke Tanah Suci di tengah situasi konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

