Kelompok Palestina Hamas menyerukan kepada pemerintah Iran untuk menahan diri dari menargetkan negara-negara tetangga di tengah konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat. Meski demikian, Hamas tetap menegaskan bahwa Teheran memiliki hak untuk membela diri sesuai dengan hukum internasional.
Dalam pernyataan yang jarang terjadi, Hamas juga mendesak komunitas internasional untuk segera berupaya menghentikan perang yang meluas di kawasan Timur Tengah sejak 28 Februari lalu.
“Sambil menegaskan hak Republik Islam Iran untuk menanggapi agresi ini dengan segala cara yang tersedia sesuai dengan norma dan hukum internasional, gerakan ini menyerukan kepada saudara-saudara di Iran untuk menghindari penargetan negara-negara tetangga,” demikian pernyataan Hamas yang dikutip AFP, Minggu (15/3/2026).
Hamas, yang selama dua tahun terakhir terlibat konflik dengan Israel di Jalur Gaza, juga meminta komunitas internasional mengambil langkah nyata untuk menghentikan perang yang tengah berlangsung di kawasan tersebut.
Sebelumnya, kelompok itu juga mengecam pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada hari pertama pecahnya perang. Hamas menyebut peristiwa tersebut sebagai “kejahatan keji” sekaligus menyoroti dukungan besar yang selama ini diberikan Khamenei kepada perjuangan Palestina.
“Dia memberikan semua bentuk dukungan politik, diplomatik, dan militer kepada rakyat kami, perjuangan kami, dan perlawanan kami,” kata Hamas dalam pernyataan khusus terkait kematian Khamenei.
Di tengah konflik yang semakin meluas, Iran dilaporkan telah meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap sedikitnya sepuluh negara di kawasan, sebagai balasan terhadap operasi militer yang dilakukan oleh AS dan Israel.
Pemerintah Qatar bahkan mengungkapkan telah mencegat dua rudal pada Sabtu setelah ledakan terdengar di ibu kota Doha. Otoritas setempat juga dilaporkan mengevakuasi sejumlah wilayah sebagai langkah antisipasi. Seruan Hamas kepada Iran muncul ketika sekutunya di Lebanon, kelompok bersenjata Hizbullah, kembali terlibat dalam konflik dengan meluncurkan ratusan roket ke wilayah Israel tak lama setelah perang pecah.
Hizbullah disebut masuk ke dalam konflik setelah pembunuhan Ali Khamenei. Sejak saat itu, serangan balasan Israel di Lebanon dilaporkan telah menewaskan hampir 800 orang, menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon.
Seruan Hamas agar Iran tidak menargetkan negara-negara regional dinilai cukup penting, mengingat Teheran selama ini menjadi salah satu pendukung utama kelompok tersebut. Para analis memperkirakan Iran memberikan dukungan finansial hingga puluhan juta dolar setiap tahun kepada Hamas.
Di bawah kepemimpinan Ali Khamenei, Iran memandang dukungan terhadap kelompok-kelompok Palestina, termasuk Hamas, sebagai bagian penting dari strategi regionalnya dalam menghadapi Israel dan sekutunya.
Selain Iran, sejumlah negara mayoritas Sunni juga diketahui memiliki hubungan dengan Hamas, terutama Turki dan Qatar.
Qatar sendiri selama ini menjadi salah satu penyokong finansial utama yang berkaitan dengan Gaza di bawah pemerintahan Hamas. Dukungan tersebut sebagian besar disalurkan dalam bentuk bantuan kemanusiaan dan proyek rekonstruksi, seperti pembayaran gaji pegawai negeri, penyediaan bahan bakar, serta pembangunan infrastruktur.
Namun, sejumlah pihak mengkritik bantuan tersebut karena dinilai secara tidak langsung turut memperkuat posisi politik Hamas, yang memerintah Gaza hingga pecahnya perang besar di wilayah Palestina setelah peristiwa Serangan Hamas ke Israel 7 Oktober 2023.
Qatar juga diketahui menjadi tuan rumah bagi kepemimpinan politik Hamas di Doha, yang memungkinkan kelompok tersebut mempertahankan hubungan internasional serta terlibat dalam berbagai upaya negosiasi dan mediasi konflik.
Akbari Danico – Redaksi

