National

Harga Minyak Sempat Sentuh USD 120, Pemerintah Pastikan APBN 2026 Tetap Aman

Pemerintah memastikan bahwa kondisi ruang fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih cukup kuat meski harga minyak dunia sempat melonjak hingga mendekati USD 120 per barel akibat tensi geopolitik global.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, secara rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sejak awal tahun hingga Februari tercatat sebesar USD 68,8 per barel. Angka tersebut masih berada di bawah asumsi ICP dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar USD 70 per barel.

“Realisasi harga minyak mentah Indonesia hingga Februari sebesar USD 68,8 per barel. Estimasi kami, realisasi ICP secara year to date hingga Maret 2026 sekitar USD 68 per barel. Ini sudah memasukkan kenaikan hingga USD 120 per barel yang sebentar itu. Ini masih di bawah asumsi APBN sebesar USD 70 per barel,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (11/3).

Menurutnya kondisi tersebut membuat ruang fiskal dalam APBN masih aman, tidak sampai berdampak signifikan pada subsidi BBM dan belanja negara lainnya.

“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026,” tegas Purbaya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah pun belum perlu melakukan perubahan terhadap APBN, meskipun harga minyak sempat melonjak tajam dalam waktu singkat.

“Harga minyak sudah USD 100 per barel, apakah pemerintah akan mengubah APBN? Belum. Kalau kita lihat di sini, rata-rata harga minyak mentah masih USD 68 per barel,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menambahkan bahwa pemerintah terus mencermati dan mengantisipasi dampak dari konflik di Timur Tengah. Berdasarkan perkembangan terbaru, konflik menunjukkan tanda-tanda mereda.

Menurutnya, harga minyak masih berpotensi bergerak di kisaran USD 90 hingga USD 100 per barel apabila gangguan pada jalur distribusi energi global, seperti Selat Hormuz.

“Tetap kita harus waspadai risiko harga minyak di sekitar USD 90 hingga USD 100 per barel, apalagi jika gangguan di Selat Hormuz berkelanjutan,” kata Suahasil.

Namun demikian, ia juga melihat peluang harga minyak kembali stabil di kisaran USD 70 hingga USD 80 per barel apabila tensi geopolitik mereda dalam waktu dekat. Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pemerintah berupaya memperkuat ketahanan energi agar tidak terpukul ketika terjadi gangguan pasokan minyak bumi.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...