National

Ketegangan AS–Israel vs Iran Memanas, Pakar Sebut Swasembada yang Didorong Prabowo Jadi Relevan

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran global. Serangan udara, balasan rudal, hingga ancaman penutupan Selat Hormuz menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah yang dampaknya dapat menjalar ke seluruh dunia.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai, situasi ini bukan sekadar konflik regiona,, melainkan alarm keras bagi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Menurutnya, ketahanan dalam negeri bukan lagi slogan.

“Ketahanan dalam negeri bukan lagi slogan. Ia menjadi kebutuhan mendesak. Ketika dunia tidak stabil, negara harus berdiri di atas kaki sendiri. Program kemandirian bangsa yang tengah didorong pemerintah menjadi relevan. Swasembada pangan, swasembada energi, hingga kemandirian industri bukan sekadar janji politik. Ia adalah strategi bertahan,” ujar Agung dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/3).

Agung menjelaskan, sekitar seperlima distribusi energi dunia melintasi Selat Hormuz. Jika jalur tersebut terganggu, negara-negara pengimpor energi akan menghadapi tekanan berat. Dalam konteks inilah, menurutnya, upaya memperkuat ketahanan dalam negeri menjadi sangat relevan.

Menurut Agung, swasembada pangan merupakan benteng pertama dalam menghadapi gejolak global. Dengan cadangan beras nasional yang meningkat dan komitmen untuk tidak bergantung pada impor, Indonesia memiliki bantalan terhadap potensi gangguan distribusi global.

“Ketika jalur logistik global terganggu, ketika kapal-kapal tertahan akibat konflik, rakyat tetap harus makan. Kemandirian pangan menjadi benteng pertama. Program Makan Bergizi Gratis juga memainkan peran penting. Ia menjamin kebutuhan dasar masyarakat. Sekaligus menciptakan lapangan kerja. Ekonomi domestik bergerak dan daya beli terjaga,” katanya.

Selain pangan, sektor energi dinilai menjadi prioritas berikutnya. Ketergantungan terhadap impor energi,  merupakan kerentanan struktural yang harus dikurangi secara bertahap melalui peningkatan produksi dalam negeri, penguatan kilang, serta diversifikasi sumber energy.

Lebih lanjut, penguatan industri dalam negeri juga harus berjalan konsisten. Dalam situasi harga bahan baku global yang fluktuatif, kemampuan industri nasional untuk bertahan akan menentukan daya tahan ekonomi secara keseluruhan. Agung mengingatkan bahwa seluruh agenda swasembada dan kemandirian nasional harus disertai tata kelola yang bersih dan pengawasan yang ketat.

“Pengawasan berjenjang mutlak diperlukan. Tanpa tata kelola yang baik, swasembada hanya menjadi angka di atas kertas. Korupsi bisa menggerogoti fondasi,” tegasnya.

Di tengah dinamika global yang kembali memanas, Agung menilai penguatan fondasi domestik merupakan pilihan rasional. Meski konflik terjadi jauh dari wilayah Indonesia, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari kenaikan harga energi hingga bahan kebutuhan pokok.

Karena itu, ia menegaskan, pembangunan ketahanan nasional harus dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten agar tidak berhenti pada wacana, melainkan menjadi kekuatan riil dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...