Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tengah mengalami ekspansi yang kuat pada kuartal I tahun ini. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu Indonesia menghadapi ketidakpastian global, termasuk eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terjadi saat ini.
“Ekonomi Indonesia sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat. Kalau kita harus menghadapi dampak negatif dari gejolak perekonomian global, tidak usah takut. Kita bisa mengendalikan dampak negatif dengan baik ke depan,” ujar Purbaya dalam konferensi pers, Rabu (11/3).
Purbaya menjelaskan, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren positif pada awal tahun ini. Salah satunya terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mencapai 53,8 pada Februari 2026. Angka tersebut tidak hanya menandakan aktivitas manufaktur yang berada di zona ekspansi, tetapi juga menjadi level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Menurut Purbaya, capaian tersebut bahkan lebih baik dibandingkan sejumlah negara besar seperti China, Amerika Serikat, dan Australia. Menurutnya, kondisi ini menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi nasional.
Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari tercatat berada di level 125,2. Angka tersebut menunjukkan tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih terjaga, mengingat indeks berada di atas ambang batas optimisme di level 100.
Dari sisi konsumsi, belanja masyarakat juga tercatat mengalami pertumbuhan positif pada awal tahun. Hal ini tercermin dari Mandiri Spending Index (MSI) yang mencapai 360,7 poin pada Februari 2026.
Purbaya mengatakan peningkatan konsumsi tersebut didorong oleh belanja masyarakat menjelang Ramadan, terutama pada sektor barang konsumsi, pendidikan, dan mobilitas.
“Belanja masyarakat menjelang Ramadan ini terutama didorong konsumsi consumer goods, pendidikan, dan mobilitas. Jadi memang dari sini daya beli masyarakat sepertinya terus membaik dan menguat,” imbuh dia.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tetap mewaspadai dampak ketidakpastian global terhadap kondisi makroekonomi Indonesia. Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah potensi disrupsi rantai pasok menyusul penutupan Selat Hormuz akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Iran.
Pubaya memastikan bahwa instrumen fiskal akan tetap bekerja secara responsif untuk menjaga stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat.
“Pemerintah akan terus mewaspadai tantangan rantai pasok yang masih terkendala, serta risiko kenaikan inflasi terhadap biaya input agar momentum pemulihan ekonomi domestik tetap terjaga,” pungkas dia.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

