Ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu jalur perdagangan energi global kini membuka peluang bagi Rusia untuk kembali menawarkan pasokan minyak dan gas ke Eropa. Vladimir Putin menyatakan negaranya siap kembali memasok energi ke kawasan tersebut jika negara-negara Eropa bersedia menjalin kerja sama jangka panjang.
Presiden Rusia itu mengatakan Moskow tidak menutup kemungkinan untuk kembali bekerja sama dengan pelanggan di Uni Eropa setelah pengiriman energi melalui jalur strategis dunia terganggu akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam komentar yang disiarkan televisi pada Senin (9/3/2026), ketika konflik di Timur Tengah membuat arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz praktis terhenti.
Selat sempit tersebut merupakan salah satu jalur paling vital bagi perdagangan energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta gas alam cair melewati perairan itu setiap harinya.
Dalam keterangannya, Putin menegaskan Rusia siap kembali memasok energi ke Eropa asalkan kerja sama tersebut bersifat stabil, jangka panjang, dan tidak disertai tekanan politik.
“Jika perusahaan-perusahaan Eropa dan para pembeli Eropa tiba-tiba memutuskan untuk mengalihkan kembali orientasi mereka dan memberi kami kerja sama jangka panjang yang berkelanjutan, bebas dari tekanan politik, maka kami tidak pernah menolaknya. Kami siap bekerja dengan orang Eropa juga,” ujar Putin.
Ia juga mendorong perusahaan energi Rusia untuk memanfaatkan situasi krisis yang terjadi akibat konflik di Timur Tengah, yang memicu gangguan pada pasokan energi global.
Pernyataan Putin muncul hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán mendesak Uni Eropa agar mempertimbangkan kembali sanksi terhadap sektor energi Rusia.
Orbán meminta blok tersebut menangguhkan sanksi terhadap minyak dan gas Rusia guna menahan lonjakan harga energi yang dipicu perang di Timur Tengah. Seruan itu kembali menyoroti perdebatan di Eropa mengenai keseimbangan antara tekanan politik terhadap Moskow dan kebutuhan menjaga stabilitas pasokan energi.
Sejak pecahnya perang di Ukraina, negara-negara Eropa memang berupaya mengurangi ketergantungan mereka terhadap energi Rusia. Uni Eropa bahkan melarang impor minyak mentah Rusia melalui jalur laut pada 2022 sebagai bagian dari paket sanksi terhadap Moskow.
Selain itu, ekspor minyak Rusia melalui jaringan pipa Druzhba Pipeline menuju Hungaria dan Slovakia juga terhenti sejak Januari setelah kerusakan pada jalur yang melewati Ukraina.
Sebelum perang Ukraina, lebih dari 40 persen kebutuhan gas Eropa dipasok oleh Rusia. Namun pada 2025, gabungan pasokan gas Rusia melalui jaringan pipa dan LNG hanya menyumbang sekitar 13 persen dari total impor energi Uni Eropa.
Hilangnya pasar Eropa selama konflik tersebut memaksa Rusia mencari pembeli baru di Asia. Moskow akhirnya menjual minyak dan gasnya ke berbagai negara Asia dengan diskon besar untuk mempertahankan volume ekspor.
Akbari Danico – Redaksi

