World

Putin Tawarkan Diri Jadi Mediator Konflik Iran dan Negara-negara Teluk

Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan diri menjadi mediator antara Iran dan negara-negara Teluk di tengah meningkatnya serangan Amerika Serikat dan Israel di kawasan. Langkah tersebut dilakukan saat ketegangan regional terus meluas menyusul aksi saling balas serangan.

Menurut laporan Reuters, Putin pada Senin (2/3) menelepon empat pemimpin negara Teluk untuk menawarkan peran sebagai penengah dalam meredakan eskalasi. Upaya diplomatik ini muncul setelah Iran meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari.

Serangan balasan Iran disebut menyasar pangkalan AS di Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) mengecam aksi tersebut karena dinilai melanggar kedaulatan wilayah mereka, bahkan mengindikasikan kemungkinan respons balasan.

Dalam percakapan dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Putin menyebut serangan AS-Israel terhadap Iran sebagai “agresi tanpa provokasi”. Kremlin menyatakan kedua pihak menekankan pentingnya gencatan senjata segera dan kembalinya proses politik serta diplomatik.

Putin juga berbicara dengan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani untuk membahas risiko meluasnya konflik dan potensi keterlibatan negara-negara lain. Kepada Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, ia menegaskan kesiapan Rusia melakukan segala upaya guna membantu menstabilkan Timur Tengah.

Sementara itu, dalam pembicaraan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Putin kembali menawarkan diri sebagai mediator, dengan menekankan hubungan baik Moskow dengan Iran maupun negara-negara Teluk.

Moskow memandang kemitraan strategisnya dengan Iran sebagai salah satu kunci mempertahankan pengaruh di Timur Tengah. Posisi Rusia di kawasan disebut melemah sejak sekutunya, Presiden Suriah Bashar al-Assad, digulingkan 15 bulan lalu.

Meski konflik berpotensi memberi keuntungan ekonomi bagi Rusia, termasuk lonjakan harga minyak dan teralihkan perhatian global dari invasi Rusia ke Ukraina, perang AS-Israel versus Iran tetap tidak sepenuhnya sejalan dengan visi Moskow tentang tatanan dunia multipolar yang tidak didominasi Amerika Serikat.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...