Rusia dan China dilaporkan ikut memberikan dukungan kepada Iran di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikatdan sekutunya, Israel, sejak akhir Februari 2026. Dukungan tersebut disebut mencakup bantuan kemanusiaan, kerja sama teknologi militer, hingga dugaan pertukaran informasi intelijen.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, disebut telah meminta Kementerian Situasi Darurat Rusia untuk segera mengirimkan bantuan ke Iran. Bantuan tersebut berupa sekitar 13 ton obat-obatan yang terlebih dahulu dikirim ke Azerbaijan sebelum diteruskan kepada pemerintah Iran yang berbasis di Teheran.
“Divisi penerbangan kementerian mengatur pengiriman obat-obatan ke Azerbaijan untuk diteruskan kepada perwakilan resmi pemerintah Iran,” demikian pernyataan kementerian yang dikutip Anadolu Agency.
Di sisi lain, dua pejabat Amerika Serikat mengklaim Rusia juga memberikan informasi intelijen sensitif kepada Iran. Informasi tersebut disebut mencakup lokasi kapal perang serta pesawat militer AS yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.
Sumber tersebut menyebutkan jaringan intelijen Rusia memungkinkan Iran mengidentifikasi aset militer AS dan Israel dengan presisi yang sebelumnya sulit dilakukan oleh Teheran sendiri. Salah satu faktor yang disebut mendukung kemampuan tersebut adalah akses terhadap satelit pengintai Rusia yang lebih canggih, seperti sistem Kanopus-V.
Ketika teknologi satelit tersebut dioperasikan dari Iran, sistem itu disebut dikenal dengan nama Khayyam. Informasi tersebut dilaporkan oleh Al Jazeera. Bagi Iran, teknologi ini tidak hanya memperkuat kemampuan pengawasan, tetapi juga mendukung doktrin serangan presisi dalam operasi militernya.
Meski demikian, Putin membantah tuduhan bahwa Rusia membagikan intelijen militer kepada Iran. Ia juga menyatakan Rusia sebelumnya telah mengusulkan penyelesaian konflik di Timur Tengah melalui jalur politik dan diplomatik saat berdiskusi dengan Presiden AS, Donald Trump.
Putin mengatakan Rusia telah melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin negara di kawasan Teluk, termasuk Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, guna mencari jalan keluar diplomatik dari konflik tersebut.
“Izinkan saya mengatakan bahwa pertukaran ide yang sangat substansial, dan tanpa diragukan lagi bermanfaat, telah terjadi,” ujar Putin.
Dukungan Teknologi Militer China
Selain Rusia, China juga disebut memainkan peran penting dalam memperkuat kemampuan militer Iran, khususnya di bidang peperangan elektronik dan sistem radar. Selama beberapa tahun terakhir, Beijing dilaporkan membantu mengembangkan sistem navigasi dan deteksi militer Iran.
Salah satu langkah penting adalah pengalihan sistem navigasi militer Iran dari GPS milik AS ke sistem satelit milik China, yakni BeiDou-3. Sistem navigasi ini memungkinkan Iran memperoleh dukungan pemetaan medan dan intelijen sinyal yang lebih mandiri.
China juga dilaporkan memasok radar anti-siluman YLC-8B yang menggunakan gelombang frekuensi rendah. Radar ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan deteksi terhadap pesawat siluman milik AS seperti B-21 Raider dan F-35C Lightning II.
Selain itu, laporan Reuters menyebut Iran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi sekitar 50 rudal anti-kapal supersonik CM-302, yang merupakan varian ekspor dari rudal China YJ-12.
Rudal tersebut mampu melaju dengan kecepatan hingga Mach 3 dan dirancang meluncur rendah di atas permukaan laut, sehingga mempersempit waktu reaksi kapal musuh. Sejumlah analis militer bahkan menyebut senjata ini sebagai “pembunuh kapal induk”.
Saat ini, dua kapal induk AS yakni USS Abraham Lincoln (CVN-72) dan USS Gerald R. Ford (CVN-78) dilaporkan beroperasi dalam jangkauan rudal tersebut.
Pekan lalu, China juga menyatakan dukungan terhadap pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang terpilih untuk menggantikan ayahnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan pemilihan Mojtaba merupakan keputusan internal Iran yang harus dihormati oleh negara lain.
“Ini adalah keputusan pihak Iran berdasarkan konstitusinya,” kata Guo, seperti dikutip AFP.
Ia juga menegaskan China menolak segala bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri negara lain dan menekankan bahwa kedaulatan serta keamanan Iran harus dihormati.
Akbari Danico – Redaksi

