World

Senator AS Sebut Perang Iran “Investasi Besar” untuk Kuasai Cadangan Minyak

Senator Partai Republik Amerika Serikat, Lindsey Graham, menyatakan bahwa Washington berpotensi menguasai hampir sepertiga cadangan minyak dunia dan meraup keuntungan besar apabila berhasil menggulingkan pemerintahan Iran. Pernyataan itu disampaikan Graham dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Graham menggambarkan biaya serangan terhadap Iran sebagai investasi yang sangat menguntungkan. Ia berpendapat bahwa operasi militer tersebut bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meskipun Teheran terus membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai.

“Ketika rezim ini tumbang, kita akan memiliki Timur Tengah yang baru. Kita akan menghasilkan banyak uang dan tidak akan ada lagi yang mengancam Selat Hormuz,” ujar Graham dalam wawancara tersebut.

Ia juga menyebut bahwa Amerika Serikat berpotensi menempatkan pemerintahan yang lebih bersahabat di Teheran jika rezim saat ini runtuh.

Lebih lanjut, Graham menyoroti potensi dominasi sumber daya energi global melalui kontrol terhadap Iran dan Venezuela. Menurutnya, pengaruh terhadap cadangan minyak kedua negara tersebut akan memberikan keuntungan strategis bagi Amerika Serikat sekaligus menjadi pukulan bagi rival geopolitiknya, terutama China.

“Venezuela dan Iran memiliki 31 persen cadangan minyak dunia. Kita akan menjalin kemitraan dengan 31 persen cadangan yang diketahui. Ini adalah mimpi buruk bagi China. Ini investasi yang bagus,” kata Graham.

Pernyataan tersebut muncul ketika harga minyak mentah global melonjak hingga melampaui US$100 per barel di tengah eskalasi konflik. Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyebut kenaikan harga tersebut sebagai harga yang kecil untuk dibayar dalam perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari.

Sementara itu, Washington juga dilaporkan berupaya memperluas pengaruhnya di sektor energi Venezuela setelah operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari. Pemerintah AS kemudian mengakui Delcy Rodriguez sebagai presiden pelaksana Venezuela yang menyatakan kesiapan bekerja sama dengan Washington.

Sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel, Iran menutup Selat Hormuz dan menyerang sejumlah kapal tanker yang mencoba melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Langkah ini memicu gangguan lebih lanjut terhadap arus energi global, disertai serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika di sejumlah negara Teluk.

Pemerintah Iran mengecam perang tersebut sebagai agresi tanpa provokasi dan menegaskan tidak akan tunduk pada tuntutan menyerah tanpa syarat dari Washington. Hingga kini, ketegangan militer di kawasan Timur Tengah masih terus meningkat dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...