Sebuah kapal tanker yang berlabuh di lepas pantai Uni Emirat Arab, dekat Selat Hormuz, dilaporkan terkena proyektil pada Selasa pagi. Insiden ini menjadi serangan pertama di sekitar jalur strategis tersebut dalam lima hari terakhir, menurut laporan otoritas maritim Inggris.
Badan United Kingdom Maritime Trade Operations menyebut kapal tersebut dihantam di dekat Pelabuhan Fujairah, di bagian selatan selat, dan hanya mengalami kerusakan ringan. Tidak ada laporan korban luka, sementara pihak berwenang masih melakukan penyelidikan.
Sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, setidaknya 17 kapal telah diserang di kawasan tersebut.
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan sistem pertahanan udara negara itu terus mencegat ancaman rudal dan drone dari Iran sepanjang Selasa pagi. Di Abu Dhabi, seorang warga Pakistan dilaporkan tewas akibat serpihan rudal yang jatuh setelah proses pencegatan.
Fujairah dan Abu Dhabi berada di dua ujung jalur pipa minyak yang dirancang untuk menghindari Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. International Energy Agency memperkirakan lebih dari seperempat ekspor minyak yang biasanya melewati selat masih dapat dialirkan melalui pipa tersebut.
Namun, Iran dilaporkan telah menargetkan fasilitas di kedua ujung jalur itu dan menegaskan tidak akan mengizinkan pengiriman minyak yang menguntungkan Amerika Serikat serta sekutunya melewati Selat Hormuz.
Pemerintah Fujairah juga menyatakan serangan drone memicu kebakaran di Fujairah Oil Industry Zone, kawasan industri yang mencakup salah satu terminal penyimpanan dan ekspor minyak terbesar di dunia. Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, meski sumber serangan belum dijelaskan.
Aktivitas pemuatan di terminal tanker minyak Fujairah sempat dihentikan pada Selasa pagi, berdasarkan pemberitahuan dari Inchcape Shipping Services, perusahaan jasa pelabuhan internasional yang beroperasi di wilayah tersebut.
Sebagai langkah pencegahan, otoritas UEA juga sempat menutup wilayah udara negara itu selama beberapa jam. Menurut laporan kantor berita negara WAM, langkah tersebut diambil sebagai “tindakan pencegahan luar biasa”.
Penutupan itu menghentikan seluruh penerbangan, termasuk di Bandara Internasional Dubai, salah satu bandara tersibuk di dunia. Lalu lintas udara dilaporkan kembali normal pada pagi harinya.
Akbari Danico – Redaksi

