Pameran dan forum arsitektur terbesar di Indonesia, ARCH:ID 2026, resmi digelar pada 23 April 2026 di Hall 6 ICE BSD City. Pembukaan ditandai dengan pertunjukan tari tradisional dan seremoni pemukulan gong oleh Direktur Arsitektur dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Megawati Panjaitan.
Ajang yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia bersama CIS Exhibition ini memasuki edisi keenam dengan mengusung tema “Skema Sintesa: Arsitektur Keterlibatan”. Tema tersebut menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab tantangan arsitektur kontemporer.
Ketua IAI, Georgius Budi Yulianto, bersama jajaran kurator seperti Afwina Kamal, Trianzani Sulshi, dan Dhanie Syawalia, turut hadir dalam pembukaan yang juga dihadiri berbagai pemangku kepentingan industri.
Tahun ini, ARCH:ID menghadirkan lebih dari 180 peserta dengan total 725 booth yang tersebar di area seluas 18.000 meter persegi. Selain pameran, kegiatan ini juga mencakup konferensi internasional, 90 sesi talk series, serta lebih dari 220 pembicara dari dalam dan luar negeri.
Program unggulan seperti Business Matching, Hackathon, hingga Best Booth Award kembali dihadirkan untuk memperkuat jejaring dan inovasi di industri arsitektur dan desain.
ARCH:ID 2026 kali ini akan menghadirkan pengalaman pameran yang dikurasi melalui konsep Tetenger, dengan mengubah format pameran dari sekadar deretan booth menjadi rangkaian zona tematik yang saling terhubung. Berbagai area dirancang dengan fungsi yang spesifik, seperti Tetenger Riung sebagai ruang berkumpul, Tetenger Rembuk untuk diskusi, Tetenger Teduh sebagai ruang jeda dan refleksi, Tetenger Tutur sebagai ruang narasi, serta Tetenger Siar untuk aktivitas media, yang dilengkapi pula dengan Tetenger Rehat dan Tetenger Luar.
Pendekatan ini diperkuat dengan kehadiran area komunal seperti angkringan dan alun-alun yang menciptakan suasana pameran lebih cair dan kontekstual.
Lebih dari 60 arsitek lintas generasi—termasuk Andra Matin, Muhammad Sagitha, M. Ikhsan Hamiru, dan Artiandi Akbar—terlibat dalam perancangan area pameran seluas 8.090 meter persegi melalui pendekatan kurasi kolaboratif, bersama komunitas seperti Ibu Arsitek, IALRC, dan Scootarch.
Selain itu, kolaborasi di ARCH:ID tahun ini pun berkembang lebih luas dengan menyentuh lintas disiplin yang melampaui praktik arsitektur, yakni dengan melibatkan lighting designer, desainer grafis, desainer produk, hingga arsitek lanskap, serta adanya dukungan dari berbagai asosiasi profesional seperti Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), Himpunan Teknik Iluminasi Indonesia (HTII), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Aliansi Designer Product Indonesia (ADPII), Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), serta Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI).
Selain pameran, ARCH:ID 2026 juga menghadirkan rangkaian konferensi internasional yang berlangsung selama dua hari, pada 23–24 April 2026, dan terbagi ke dalam dua sesi yaitu Urban Forum dan Architectural Forum. Konferensi ini menghadirkan pembicara internasional seperti Florence Chan (KPF, Hong Kong), Manuelle Gautrand (Prancis), Marina Tabassum (Bangladesh)—penerima penghargaan Aga Khan Awards for Architecture, dan Agnes Soh (Singapura), yang membawa beragam pendekatan mulai dari perancangan ruang publik hingga desain yang responsif terhadap iklim.
Sementara itu, pembicara dari Indonesia menghadirkan Irene Umar selaku Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Diana Kusumastuti selaku Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia, serta Isha Hening sebagai seniman visual dan Helen Agustine sebagai arsitek, yang bersama-sama menghadirkan perspektif lintas disiplin yang terus berkembang.
Sebagai platform B2B, ARCH:ID menjadi ruang strategis untuk peluncuran produk, eksplorasi material, serta pengembangan solusi inovatif seperti smart building, teknologi modular, hingga Building Information Modelling.
Program Business Matching kembali menjadi andalan dengan mempertemukan arsitek, desainer, dan pelaku industri dalam sesi kurasi 1-on-1 yang lebih terarah dan potensial.
Sementara itu, program Hackathon bertema “Synthesis in Action” mendorong kolaborasi mahasiswa lintas disiplin dalam merancang solusi berbasis teknologi seperti Autodesk Forma, Rhinoceros, dan SketchUp.
Beragam kategori produk yang dihadirkan mencakup renewable dan sustainable architecture, smart building technologies, modular solutions, BIM (Building Information Modelling), hingga berbagai produk arsitektur, interior, material bangunan, serta surface dan finishing, yang menegaskan komitmen terhadap praktik berkelanjutan dan masa depan arsitektur yang lebih ramah lingkungan.
Melalui rangkaian programnya, ARCH:ID mendorong kolaborasi antara brand, arsitek, dan praktisi lintas disiplin guna meningkatkan kualitas desain sekaligus memperkuat strategi komunikasi dan pengembangan bisnis.
ARCH:ID 2026 ditargetkan menarik sekitar 31.000 pengunjung selama empat hari penyelenggaraan. Dengan skala yang semakin besar dan pendekatan kolaboratif yang kuat, ajang ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem arsitektur nasional sekaligus membuka peluang kerja sama global.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

